Laman

Rabu, 25 Juni 2014

Freaky Freak

Suatu siang yang cerah, saya mendapat pesan singkat dari seorang manusia yang hobinya manggil orang dengan sebutan 'freak', isinya:

pyonggg
it's so easy to loose faith in Jkt. No thank yous, no kindness, no empathy towards eldery and those needed.
sedih ya.

Saya terdiam cukup lama, bingung mau jawab apa. Saya sendiri sering mengalaminya, tapi kalau dia saja bilang begitu, pasti ada sesuatu. Saya sempat terpikir untuk menjawab: 
"yaelah broh, namanya juga hidup di negara dunia ketiga. Lo berharap apa? Negara dunia ketiga itu ya nggak hanya kondisi perekonomian atau sarana prasarana yang kurang menunjang. Tapi ada lagi yang lebih esensial, kualitas sumber daya manusia-nya, mental manusia-nya, cara berpikir manusia-nya. Jadi ya kita bisa apa. Pilihannya pindah ke developed country atau kita berusaha merubah ni negara atau ni kota sebisa kita."

Tapi kalimat itu toh tidak saya ucapkan. Ntah mengapa, mungkin karena saya pikir bukan itu yang dia butuhkan.

Atau saya juga sempat mau menjawab: 
"ya udah, lo tegur aja sebisa lo, yang penting kita berusaha menyadarkan mereka, sesuai kemampuan kita."

Tapi kalimat itu juga akhirnya tidak saya ucapkan. Karena lagi-lagi saya berpikir, ah, dia sudah tau apa yang harus dilakukannya. Saya yakin.

Saya juga sempat berpikir  untuk menjawab: 
"sabar ya bro. Yang penting kita nggak kaya' mereka. Kita mulai aja dari diri sendiri."

Tapi entah kenapa, saya juga tidak mengucapkannya. Karena menurut saya, ini jawaban orang yang menyerah dan hanya bisa menyimpan kebaikan untuk dirinya sendiri.

Akhirnya saya menjawab dengan hal lain. Tidak penting isinya, karena bukan itu yang hendak saya ceritakan. Yang mau saya ceritakan adalah tentang si manusia ajaib yang hobinya manggil org lain dengan sebutan 'freak' ini.

Dia, manusia yang pagi-pagi nyengir ceria sambil teriak 'selamat pagiiii' di depan pintu kelas, kepada org yang belum terlalu dikenalnya padahal si org ini bermuka jutek nan tidak bersemangat karena lagi stress berat dan bahkan ada tendensi depresi karena memikirkan permasalahan hidup yang dialaminya. Dan saya, si orang itu, terheran-heran karena ternyata manusia ajaib macam itu ada, karena yang saya tau, manusia macam itu hanya ada di drama, buku atau novel. Dan saya, saat itu, untuk pertama kalinya, baru benar-benar sadar, pentingnya senyum dan sapa.

Dia orang yang enggan memakai kantong plastik saat berbelanja di minimarket, padahal dia beli 15 kotak minuman, dan dijejelkan semuanya di dalam tas ranselnya sambil bilang 'nggak papa, toh masih bisa masuk. soalnya sampah plastik itu serem banget dampaknya buat bumi'. Saya speechless, heran karena ada manusia yang sangat2 mempedulikan lingkungan tidak sekedar melalui kata-kata, tapi dilakukannya dengan perbuatan. Dan saya, saat itu, baru benar-benar sadar menjaga lingkungan benar-benar bisa dimulai dari hal kecil.

Dia, orang yang gigih menjual kalender atau diary atau apapun benda yang berbau-bau 'sahabat anak' karena kepeduliannya terhadap anak-anak jalanan dan pendidikan mereka. Atau dia yang berusaha mengajak dan membujuk2 teman-temannya untuk membantu dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan 'sahabat anak' atau jambore anak jalanan, meski seringkali teman-temannya tidak menunjukkan minat. Dan saya yakin, itu dia lakukan tanpa mengharapkan apapun. Dan saya, belajar untuk memberi sesuatu, tidak harus dengan uang, tapi bisa dengan hal lain.

Dia, yang manggil nama saya trus meluk saya sampe bikin saya pengen nangis sekaligus bingung harus gimana atau melakukan apa atau ngomong apa karena saya tidak terbiasa dipeluk. Padahal saya cuma bilang saya mau datang ke pemberkatan pernikahannya. Dan saya nggak jadi datang gara-gara kerja. Dan saya amat sangat menyesalinya. Dan saya belajar, pelukan itu bisa membuat seseorang merasa berharga.

Dia, manusia yang mau mendengarkan dengan antusias, tanpa mengkritik, tanpa menasihati, tanpa menuntut. Dan saya belajar, bisa jadi, orang-orang yang datang kepada kita hanya ingin didengarkan. Karena mereka sudah terbiasa dikritik, dinasihati, diberi banyak tuntutan, dan saat akhirnya kita mengatakan 'kamu tu harusnya bla bla bla bla', atau 'sebaiknya lo bla bla bla bla', atau 'mungkin lo bisa bla bla bla bla', aih, betapa lelahnya mereka...
 
Dia membuat saya yakin bahwa keberadaannya adalah salah satu sinyal bahwa manusia baik itu ada, terlepas dari apapun suku, agama, ras dan bangsanya. Dan saya belajar banyak darinya, dari kelakuan freak-nya. Manusia freak yang super hebat. Selamat menempuh hidup baru, freak!

Manusia freak yang hobi-nya nyengir. Selamat, freak!