Laman

Kamis, 22 Mei 2014

Hugo dan Perjalanan Kecil Saya

Perjalanan itu berawal dari kedatangan seorang anak berusia 10 tahun yang sangat mengingatkan saya akan diri saya sendiri saat seusianya. Saya kemudian cemas, sangat cemas, sampai-sampai kuantitas typo saya dalam menulis laporan bertambah, dan saya membutuhkan bantuan, dan saya membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk menangani kasusnya.

Dan saat itulah saya membaca satu bagian dari beratus-ratus halaman buku yang tidak saya kira akan begitu indah hingga membuat saya tercengang dan terus merenung. Sudah sering saya dengar kalimatnya, tapi entah kenapa, mungkin karena saya bertemu dengannya, sehingga kalimat tersebut terasa berbeda.

"Sometimes I come up here at night...just to look at the city. I like to imagine that the world is one big machine. You know, machines never have any extra parts. They have the exact number and type of parts they need. So I figure if the entire world is a big machine, I have to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason, too."
"Did you ever notice that all machines are made for some reason?" he asked Isabelle. "They are built to make you laugh, like the mouse here, or to tell the time, like clocks, or to fill you with wonder like the automaton. Maybe that's why a broken machine always makes me a little sad, because it isn't able to do what it was made to do." Isabelle picked up the mouse, wound it again, and set it down. "Maybe it's the same with people," Hugo continued. "If you lose your purpose...it's like you're broken."
Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret

Saya kemudian ingin berbagi padanya, saya meminta anak itu membacanya, tidak berharap agar ia memperoleh insight yang sama, karena saya sangat menyadari bahwa buku itu mungkin tidak akan berarti apa-apa bagi orang lain. Tapi saya ingin berbagi dan mengatakan bahwa buku itu berarti, sangat berarti, setidaknya bagi saya. 

 Waktu mungkin bisa menyembuhkan luka, tapi waktu juga bisa memperparah segalanya

Dan ada kalimat yang saat pertemuan terakhir kami tidak bisa saya ucapkan: "Saat ini mungkin kamu berpikir bahwa kamu baik-baik saja. Kamu berpikir bahwa apa yang terjadi padamu tidak membawa pengaruh apapun padamu. Dengan cerdasnya, kamu berusaha menyangkal, melarikan diri dan mencari berbagai alasan bahwa hal itu terjadi pada siapa saja. Tidak apa, toh manusia memang mengalami proses yang seringkali tidak disadari dan banyak orang berusaha menyangkal bahwa suatu hal yang menyakitkan telah berpengaruh pada diri mereka. Tapi kakak harap suatu hari nanti kamu akan paham, bahwa setiap kita punya tujuan. Sebagian orang sudah menemukan tujuan hidupnya, namun tidak sedikit yang tersesat dan tidak menemukan apa-apa. Dan mungkin, kita merasa hampa atau merasa bingung karena kita tidak tahu tujuan kita, atau karena kita kehilangan tujuan. Maka kita harus terus mencari dan berusaha kembali kepada tujuan kita, dan mulailah semua itu dengan mengakui. Jadi suatu saat nanti, akuilah bahwa apa yang kita alami bisa membuat kita sedih, marah, kecewa, dan terluka. Tidak apa untuk mengakuinya, karena mengakui bukan berarti kita lemah, bukan berarti juga kita bodoh. Pengakuan itu justru membuat kita sadar, bahwa proses ini, apa yang terjadi saat ini, hal-hal yang terjadi pada kita, sepahit apapun itu, sesedih apapun itu, seberat apapun itu, adalah bagian dari cara Allah untuk menempa kita menjadi seseorang yang lebih berarti, yang lebih bermanfaat. Maka berusahalah untuk menemukan tujuanmu, jadilah individu yang terbuka terhadap ilmu, dengarkan orang di sekitarmu dan nasihat-nasihat bijaksana mereka, jadilah pribadi yang peka dan peduli terhadap orang lain. Dan jika kau dengar orang dewasa di sekitarmu mengeluh, atau mengkritikmu, atau mengatakan betapa tidak bersyukurnya dirimu. katakan kepada mereka: "ajari aku untuk tidak menjadi seperti itu, karena aku hanya anak 10 tahun yang tidak tahu apa-apa, yang tidak tahu tujuan hidupku, maka ajari dan bantu aku". Dan ingatlah, jangan lakukan itu untuk bunda, atau untuk ayah, atau untuk mama dan papa, tapi untuk dirimu, dan untuk kebaikan yang lebih besar. Dan saat tujuan itu sudah mendekat atau sudah tercapai, mungkin kamu akan bersyukur dan tersenyum, betapa hidup telah mengajarkan banyak hal". aahh, mungkin dia tidak akan mengerti, tapi semoga suatu saat nanti dia akan..

Dan saya belajar banyak. Belajar untuk memaafkan dan melupakan... Sesuatu yang sebelumnya hanya bisa saya ucapkan, namun saat itu, saya sudah berusaha dan mengupayakan untuk melakukannya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar