Halaman

Kamis, 03 Oktober 2013

Tuhan, Bocah, dan Kontroversi Hati

Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya berhadapan dengan anak-anak. Menarik karena anak akan menggambarkan lingkungan tempat dirinya dibersarkan, dengan siapa dia berinteraksi, dan apa yang dilihat, didengar, diajarkan, dan dihayatinya.


Pengalaman menarik saya salah satunya ketika saya berhadapan dengan 3 anak dengan latar belakang yang berbeda. Mereka tumbuh dilingkungan agama yang berbeda dengan pola asuh yang juga berbeda.

Tatkala sedang ngobrol dengan salah satu anak perempuan yang terlihat begitu taat dengan menutup auratnya dia tiba-tiba berkata 'iya tu, tanteku itu kalo make baju nggak semua auratnya ketutup, nanti kan dosa....(dan lain-lain dia menceritakan ketidaksukaannya pada sang tante yang tidak menutup aurat), saya sendiri berfikir, 'wow, hebat banget, kecil-kecil udah hardcore, sudah mampu melihat kebenaran dari sudut pandang agama'.

Kemudian saya bertemu dengan anak lain (laki-laki) dan dia belum SD. Saat saya bertanya apa yang paling dia takutkan, dia menjawab: 'aku nggak takut apa-apa, aku kan punya Tuhan. Kalo punya Tuhan, kita nggak perlu takut sama apapun' (hiks, saya langsung pengen nangis dengernya).

Bocah yang terakhir (anak laki-laki juga) kelas 2 SD juga lumayan membuat saya terharu. Saat saya berkunjung ke rumahnya dan hendak pulang, sang bocah ingin mengantar saya naik sepedanya, yang kemudian ibunya berkata: 'ya Nak, kalau naik sepeda keluar, mama sendirian dong', anaknya terus menjawab: 'mama, mama nggak sendirian, kan ada Tuhan yang selalu bersama kita' (lagi-lagi saya pengen nangis).

Setiap orang punya penghayatan akan agama dan Tuhan yang berbeda. Bahkan, setiap orang punya cara yang berbeda juga untuk menghayati dan mencintai Tuhan. Pada kasus yang pertama, penghayatan dan kecintaan kepada Tuhan dipupuk melalui ritual, ibadah, dan menjalankan perintah serta menjauhi larangan. Itu tidaklah salah, toh Tuhan setiap agama selalu menyertakan surga dan neraka bersamaan dengan perintah atau larangan. Selain itu, membiasakan diri melakukan sesuatu dengan mengharap sesuatu atau takut memperoleh sesuatu saya yakini mampu menumbuhkan kebiasaan dan kecintaan akan sesuatu (disini saya merujuk pada behavior modification).

Maksudnya begini, kalau kita rajin beribadah karena awalnya berharap masuk surga atau karena takut masuk neraka, maka kebiasaan kita beribadah itu akan mendarah daging dan akhirnya kita melakukannya bukan lagi karena pengen masuk surga atau karena takut sama neraka, tapi karena alasan yang lebih 'mendalam'. Dengan cara ini, kita diajarkan untuk bekomitmen. Bahwa kepercayaan dan penghayatan itu perlu dibuktikan dengan ibadah, bukan sekedar mempercayai dalam hati.

Cara penghayatan kedua saya lihat di kasus kedua dan ketiga. Ya, mereka menghayati Tuhan dalam setiap momentum, dalam setiap kejadian, dalam setiap perilaku. Bagi anak-anak itu, Tuhan tidak hanya sekedar beribadah, tapi Tuhan selalu ada pada setiap tarikan nafas dan setiap aliran darah, Tuhan juga selalu ada di pikiran dan menyertai disetiap perbuatan. Cara seperti ini sangat positif terutama karena penghayatan dan kecintaan kepada Tuhan yang akhirnyamembuat mereka beribadah, bukan iming-imingan suraga tau neraka. Walhasil, ibadah menjadi aktivitas yang penuh penghayatan dan tidak ada keterpaksaan didalamnya.

Celakanya, cara seperti ini juga bisa menyesatkan. Kenapa? karena menghayati Tuhan saja kadang berujung pada agnostik spiritual. Jadi bayangkan orang yang merasa Tuhan itu dekat dan selalu ada dalam hatinya, tapi tidak melaksanakan ibadah (Well, saya cukup tahu karena salah satu orang yang membesarkan saya juga berfikir, menghayati, dan bertindak seperti ini). Mereka percaya bahwa Tuhan itu ada dan ibadah atau ritual agama hanyalah suatu bentuk pengkotak-kotakan terhadap pengahayatan akan Tuhan. Kalau dibiarkan, tentu tidak akan terlalu positif hasilnya, karena mereka mencintai Tuhan tapi tidak menunjukkan komitmen dan bukti. Walaupun, seringkali saya melihat orang-orang seperti itu justru memiliki perilaku dan cara berfikir yang bahkan lebih baik dibandingkan orang yang taat beribadah.

Kayak sop buah, semakin banyak buah yang beda semakin enak.


Lalu bagaimana dengan Saya? Saya banyak bertemu dengan orang yang memiliki penghayatan akan agama dan Tuhan yang sangat berbeda. Idealnya, saya bisa mengambil hal positif dari kedanya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi yang saya alami hanya satu, kontroversi hati. Kenapa bisa begitu?ya karna saya melihat ketidakkonsistenan. Ada yang rajin ibadah tapi kok ya suka ngomongin orang di belakang, kata-katanya tajam menyakiti, dan memiliki prejudice yang tinggi. Mereka orang baik, sangat baik, makanya sayang kalau akhirnya seperti itu. Ada lagi yang ibadahnya jarang-jarang tapi cara berfikirnya lebih positif, berusaha untuk tidak selalu menyakiti hati orang lain, dan entahlah, mungkin HDI (human development index) mereka cukup tinggi.Tapi ya itu, mereka tidak beribadah, entah apa pegangan mereka dalam mejalani hidup.

yah, itulah kontroversi hati saya. Mungkin banyak yang bakal mengernyitkan dahi jika membaca postingan ini (atau tidak ada karena juga tidak ada yang membaca). Saya bukan orang baik dan pastinya tidak masuk dalam kedua golongan yang satu itu. Tapi saya juga bukan pencari Tuhan, karena saya yakin Tuhan itu dekat, lebih dekat dari urat leher, jadi tidak perlu dicari.

Apapun pilihan kita dalam meyakini Tuhan, yang penting kita cinta damai. Jadi, mari kita hentikan pembantaian terhadap manusia yang mengatasnamakan apapun.

3 komentar:

  1. nyimak,,,ajj...


    http://setiawan-info.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. teroris adlh orang modus dan orang ngga punya keyakinan dan agama yg mengatas-namakan islam, padahal mah mereka ngga punya agama,, itu yg menjadikan umat islam dibenci umat lain "secara tidak langsung".
    umat islam harus kritis, bantai teroris, karena dia adalah kaum materialis, evolusionis, satanis yang menggunakan tabiat hewani bukan hati nurani, bagi mereka siapa kuat dia yang akan bertahan, persis seperti teori evolusi darwin,, islam tidak pernah mengajarkan umatnya seperti itu..

    BalasHapus