Halaman

Jumat, 13 Desember 2013

Berpindah ke Lain Hati...

Maaf Pak, bukannya tidak punya loyalitas, tapi Saya butuh sosok yang bisa mengingatkan saat lupa, yang menyemangati saat berada di titik terendah... Baginya, penampilan bukan segalanya, kontribusi dan dedikasi jauh lebih utama... Kebenaran substansi itu lebih bermakna dari 'pembenaran' kemasan...

Saya memutuskan berpindah ke lain hati... Profesinya sama, tapi, ahhh... yang satu ini sensainya lebih luar biasa...

Aku padamu, Pak Agus Salim
aih, bahkan kacamatapun sama...

Rabu, 16 Oktober 2013

Anna Karenina


"Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way"


= Leo Tolstoy=

 

Kamis, 03 Oktober 2013

Tuhan, Bocah, dan Kontroversi Hati

Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya berhadapan dengan anak-anak. Menarik karena anak akan menggambarkan lingkungan tempat dirinya dibersarkan, dengan siapa dia berinteraksi, dan apa yang dilihat, didengar, diajarkan, dan dihayatinya.


Pengalaman menarik saya salah satunya ketika saya berhadapan dengan 3 anak dengan latar belakang yang berbeda. Mereka tumbuh dilingkungan agama yang berbeda dengan pola asuh yang juga berbeda.

Tatkala sedang ngobrol dengan salah satu anak perempuan yang terlihat begitu taat dengan menutup auratnya dia tiba-tiba berkata 'iya tu, tanteku itu kalo make baju nggak semua auratnya ketutup, nanti kan dosa....(dan lain-lain dia menceritakan ketidaksukaannya pada sang tante yang tidak menutup aurat), saya sendiri berfikir, 'wow, hebat banget, kecil-kecil udah hardcore, sudah mampu melihat kebenaran dari sudut pandang agama'.

Kemudian saya bertemu dengan anak lain (laki-laki) dan dia belum SD. Saat saya bertanya apa yang paling dia takutkan, dia menjawab: 'aku nggak takut apa-apa, aku kan punya Tuhan. Kalo punya Tuhan, kita nggak perlu takut sama apapun' (hiks, saya langsung pengen nangis dengernya).

Bocah yang terakhir (anak laki-laki juga) kelas 2 SD juga lumayan membuat saya terharu. Saat saya berkunjung ke rumahnya dan hendak pulang, sang bocah ingin mengantar saya naik sepedanya, yang kemudian ibunya berkata: 'ya Nak, kalau naik sepeda keluar, mama sendirian dong', anaknya terus menjawab: 'mama, mama nggak sendirian, kan ada Tuhan yang selalu bersama kita' (lagi-lagi saya pengen nangis).

Setiap orang punya penghayatan akan agama dan Tuhan yang berbeda. Bahkan, setiap orang punya cara yang berbeda juga untuk menghayati dan mencintai Tuhan. Pada kasus yang pertama, penghayatan dan kecintaan kepada Tuhan dipupuk melalui ritual, ibadah, dan menjalankan perintah serta menjauhi larangan. Itu tidaklah salah, toh Tuhan setiap agama selalu menyertakan surga dan neraka bersamaan dengan perintah atau larangan. Selain itu, membiasakan diri melakukan sesuatu dengan mengharap sesuatu atau takut memperoleh sesuatu saya yakini mampu menumbuhkan kebiasaan dan kecintaan akan sesuatu (disini saya merujuk pada behavior modification).

Maksudnya begini, kalau kita rajin beribadah karena awalnya berharap masuk surga atau karena takut masuk neraka, maka kebiasaan kita beribadah itu akan mendarah daging dan akhirnya kita melakukannya bukan lagi karena pengen masuk surga atau karena takut sama neraka, tapi karena alasan yang lebih 'mendalam'. Dengan cara ini, kita diajarkan untuk bekomitmen. Bahwa kepercayaan dan penghayatan itu perlu dibuktikan dengan ibadah, bukan sekedar mempercayai dalam hati.

Cara penghayatan kedua saya lihat di kasus kedua dan ketiga. Ya, mereka menghayati Tuhan dalam setiap momentum, dalam setiap kejadian, dalam setiap perilaku. Bagi anak-anak itu, Tuhan tidak hanya sekedar beribadah, tapi Tuhan selalu ada pada setiap tarikan nafas dan setiap aliran darah, Tuhan juga selalu ada di pikiran dan menyertai disetiap perbuatan. Cara seperti ini sangat positif terutama karena penghayatan dan kecintaan kepada Tuhan yang akhirnyamembuat mereka beribadah, bukan iming-imingan suraga tau neraka. Walhasil, ibadah menjadi aktivitas yang penuh penghayatan dan tidak ada keterpaksaan didalamnya.

Celakanya, cara seperti ini juga bisa menyesatkan. Kenapa? karena menghayati Tuhan saja kadang berujung pada agnostik spiritual. Jadi bayangkan orang yang merasa Tuhan itu dekat dan selalu ada dalam hatinya, tapi tidak melaksanakan ibadah (Well, saya cukup tahu karena salah satu orang yang membesarkan saya juga berfikir, menghayati, dan bertindak seperti ini). Mereka percaya bahwa Tuhan itu ada dan ibadah atau ritual agama hanyalah suatu bentuk pengkotak-kotakan terhadap pengahayatan akan Tuhan. Kalau dibiarkan, tentu tidak akan terlalu positif hasilnya, karena mereka mencintai Tuhan tapi tidak menunjukkan komitmen dan bukti. Walaupun, seringkali saya melihat orang-orang seperti itu justru memiliki perilaku dan cara berfikir yang bahkan lebih baik dibandingkan orang yang taat beribadah.

Kayak sop buah, semakin banyak buah yang beda semakin enak.


Lalu bagaimana dengan Saya? Saya banyak bertemu dengan orang yang memiliki penghayatan akan agama dan Tuhan yang sangat berbeda. Idealnya, saya bisa mengambil hal positif dari kedanya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi yang saya alami hanya satu, kontroversi hati. Kenapa bisa begitu?ya karna saya melihat ketidakkonsistenan. Ada yang rajin ibadah tapi kok ya suka ngomongin orang di belakang, kata-katanya tajam menyakiti, dan memiliki prejudice yang tinggi. Mereka orang baik, sangat baik, makanya sayang kalau akhirnya seperti itu. Ada lagi yang ibadahnya jarang-jarang tapi cara berfikirnya lebih positif, berusaha untuk tidak selalu menyakiti hati orang lain, dan entahlah, mungkin HDI (human development index) mereka cukup tinggi.Tapi ya itu, mereka tidak beribadah, entah apa pegangan mereka dalam mejalani hidup.

yah, itulah kontroversi hati saya. Mungkin banyak yang bakal mengernyitkan dahi jika membaca postingan ini (atau tidak ada karena juga tidak ada yang membaca). Saya bukan orang baik dan pastinya tidak masuk dalam kedua golongan yang satu itu. Tapi saya juga bukan pencari Tuhan, karena saya yakin Tuhan itu dekat, lebih dekat dari urat leher, jadi tidak perlu dicari.

Apapun pilihan kita dalam meyakini Tuhan, yang penting kita cinta damai. Jadi, mari kita hentikan pembantaian terhadap manusia yang mengatasnamakan apapun.

Rabu, 14 Agustus 2013

To put the world right in order, we must first put the nation in order; to put the nation in order, we must first put the family in order; to put the family in order, we must first cultivate our personal life; we must first set our hearts right.
= Confucius =

Jumat, 17 Mei 2013

Nessun Dorma

Alkisah disuatu negeri yang sekarang bernama China, hidup seorang putri yang yang cantik rupanya, namun dingin hatinya.... Saya sendiri menduga sang putri memiliki masalah attachment (ha!), tapi mari kita tidak menduga-duga dan fokus pada cerita.

Sang putri, seperti putri-putri lain pada umumnya, dicinta dan didamba oleh para pria . Meski demikian, sang putri (yang saya duga memiliki masalah attachment) enggan didekati oleh para pria. Maka untuk menolak para pria yang datang kepadanya, sang putri membuat 3 teka-teki yang jika bisa dijawab dengan benar, maka dirinya rela dipersunting oleh sang-penjawab-dengan-benar-tiga-teka-teki. Tragisnya, jika ada yang datang melamarnya dan menjawab pertanyaan tersebut dengan salah, maka sang-penjawab-dengan-salah-tiga-teka-teki tersebut akan dibunuh dengan kejamnya. Maka para pria yang jatuh cinta kepada sang putri harus berpikir berjuta kali jika ingin mempersunting sang putri karena sang putri seolah-olah berkata kepada para pria: jangan-dekat-dekat-saya-atau-kalian-akan-mati-dalam-kebodohan-karena-mengejar-cinta-alias-rupa.

Singkat cerita, seorang pangeran yang berasal dari negeri antah berantah jatuh cinta kepada sang putri, pada pandangan pertama pula!. Sang pangeran yang terpesona oleh kecantikan sang putri datang menemuinya, dan celakanya bagi sang putri, sang pangeran berhasil menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan benar.

Sang Putri (yang saya semakin yakin memiliki masalah attachment) begitu enggan disunting oleh sang pangeran-penjawab-dengan-benar-tiga-teka-teki. Ditengah kegalauan sang putri, sang pangeran menawarkan kepada sang putri untuk menebak namanya dengan tepat dalam satu malam. Jika sang putri berhasil menjawab dengan benar, maka sang pangeran rela mati, namun jika menjawab dengan salah, sang putri harus rela menikahi sang pangeran.

Sang putri kemudian memerintahkan seluruh penghuni istananya untuk mencari tahu nama sang pangeran, dan jika tidak mampu menjawabnya, maka alih-alih dirinya, sang putri akan membunuh para penghuni istananya. Kejam nian sang putri memang... Sang pangeran, yang berada di bawah cahaya rembulan dan mendengar sang putri memberi perintah, kemudian menyanyikan lagu nessun dorma.

Silahkan cari sendiri lagu atau videonya, berikut saya masukkan liriknya:
"Nessun dorma! Nessun dorma! Tu pure, o Principessa, nella tua fredda stanza, guardi le stelle che tremano d'amore, e di speranza!" 
("None shall sleep! None shall sleep! Even you, O Princess, in your cold bedroom, watch the stars that tremble with love and with hope!")
"Ma il mio mistero è chiuso in me; il nome mio nessun saprà! No, No! Sulla tua bocca lo dirò quando la luce splenderà!" 
("But my secret is hidden within me; none will know my name! No, no! On your mouth I will say it when the light shines!")
Para penghuni istana yang kalang kabut mencari tahu nama sang pangeranpun dikejauhan menyanyikan lirik:
"Il nome suo nessun saprà, E noi dovrem, ahimè, morir, morir!" 
("No one will know his name, and we will have to, alas, die, die!")
Sang pangeran kemudian menyanyikan lirik kemengannya: 
 "Dilegua, o notte! Tramontate, stelle! Tramontate, stelle! All'alba vincerò! Vincerò! Vincerò!"
("Vanish, o night! Fade, you stars! Fade, you stars! At dawn, I will win! I will win! I will win! ")
Sampai disini, sang pengarang cerita menemui ajalnya. Beberapa penulis naskah opera melanjutkan cerita tersebut, namun saya lebih suka mengakhirinya sampai sini saja. dan jangan tanya kepada saya mengapa latar ceritanya China, namun mereka bernyanyi dalam bahasa Italia.

Setelah mendengar ceritanya, saya terkagum-kagum dengan sang pangeran. Mengapa? karena PERTAMA, dirinya berani untuk memperjuangkan takdirnya (dalam hal ini cinta), kesempatannya untuk hidup dan mendapatkan cinta atau mati dan kehilangan segalanya bisa dibilang 50:50 dan dia memperjuangkannya meski resikonya adalah kematian. KEDUA, saya rasa sang pangeran cukup cerdas karena mampu menjawab pertanyaan sang putri dengan benar, dan saya rasa sang pangeran memiliki kesamaan cara berfikir dengan sang putri. Sampai dua alasan tadi, saya rasa sang putri harusnya yakin untuk menikahi pangeran karena dirinya akan hidup dengan pria yang berani memperjuangkannya dan cukup cerdas untuk menemani kehidupan dan menjadi teman diskusinya.

Namun sang putri berbeda, dia masih juga bimbang dan enggan menikahi sang pangeran. Alasan KETIGA saya kagum terhadap sang pangeran adalah karena dia peka, ya, dia mampu menangkap getir keengganan (atau saya lebih suka mengatakan kecemasan) sang putri untuk menjalin hubungan dengan sang pangeran. hal tersebut mengarahkan kekaguman KEEMPAT saya kepada sang pangeran, yakni dia peduli, tidak memaksa, dan memberi kesempatan kepada sang putri untuk menerima dirinya, meski taruhannya (lagi-lagi) adalah nyawa (meskipun saya yakin sang pangeran yakin bahwa sang putri, dengan cara apapun, tidak akan mengetahui namanya). Sang pangeran bisa saja memaksa dan menagih janji sang putri, namun sang pangeran justru memahami keengganan (alias kecemasan) sang putri, dan mengulur waktu agar sang putri mempersiapkan diri. Alasan KELIMA tidak terlalu penting sebenarnya, namun menambah satu point untuk pangeran, yakni, romantisme dan penghayatannya terhadap situasi. Bayangkan seorang pria menikmati malam dibawah taburan bintang sambil bersenandung (iyuuuhhhh, saya sih nggak terlalu suka haha). Ah, adalagi alasan KEENAM yang sebenarnya menurunkan point sekaligus menaikkan point sang pangeran, yakni: mau-maunya nikah sama sang putri, dengan segala arogansi dan kemenyebalkannya. Tapi ya, namanya juga cinta, tidak mengenal apa yang seharusnya dikenal.

Cerita ini tidak berarti apa-apa, tapi karena saya suka lagu nessun dorma, saya jadi berminat menulisnya (boong deng...).


Rabu, 24 April 2013

Ada yang mengeluh, ingin gugur dan jatuh, dia berkata "lelah...."
Ada yang lelah, tubuhnya penat tapi semangatnya kuat, dia berkata "Lillah..."


(Entah siapa penulisnya, pesan singkat dari seorang sahabat)

Senin, 18 Februari 2013

Negeri Para Bedebah

Mengingatkan diri tatkala semangat sedang menguap... Karya luar biasa dari Adhie Massardi

Negeri Para Bedebah


Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negara para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dan mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah apa suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan.