Halaman

Senin, 31 Desember 2012

PEPONI

What an amazing cover by the Piano Guys and Alex Boye! Lagu aslinya dinyanyikan oleh Coldplay dengan judul paradise. Judul aslinya diubah ke dalam bahasa Swahili menjadi 'Peponi'.
Pada awalnya, bahasa Swahili menggunakan tulisan arab, tapi datang orang-orang barat dan misionaris yang melakukan 'modernisasi' (seperti halnya yang terjadi di Turki) dan merubah tulisannya menjadi tulisan latin...


Video clip aslinya juga menurut saya cukup mengena, tapi entah kenapa saya sangat menyukai yang satu ini. Para para paradise... enjoy! ppyong!





Selasa, 13 November 2012

Don't try to live so wise
Don't cry 'cause you're so right
Don't dry with fakes or fears
'cause you will hate yourself in the end



=Wind, Akeboshi=


Senin, 12 November 2012

"Aneh, ada orang yang memaki. Mungkin ia tak tahu, makian adalah tanda orang lemah yang tak mengerti kekuatan diam."

-Goenawan Mohamad- 


Kamis, 01 November 2012

Ketika cantik berarti sehat

Saya sedang tidak memperdebatkan definisi cantik atau kerelatifan persepsi orang mengenai sosok seperti apa yang bisa dibilang cantik, tapi saya ingin memaparkan bahwa 'cantik' bisa menjadi salah satu parameter sehat. Ada yang mau protes? ok, begini maksud saya, bayangkan ada seorang wanita perempuan yang wajahnya mulus tanpa jerawat, warna kulitnya rata tidak belang-belang karena terkena sinar matahari, dan badannya sesuai atau ideal dengan tinggi badannya alias tidak gemuk. Setelah membayangkannya, maka saya akan menanyakan pertanyaan essensial mengenai perempuan tersebut: 'cantikkah dia??', saya sendiri akan menjawab, IYA! (well, nanya sendiri, njawab sendiri).

Ada yang berpendapat mereka tidak cantik?
(sumber: missworld.com)

Saya bukan seorang fashionista atau orang yang peduli fashion, tapi sangat tepat kalo saya menggunakan kata-kata dari perancang ternama Coco Chanel:

“There are no ugly women in the world, just lazy ones”

 

Yo'i banget kan? di dunia ini nggak ada cewek perempuan jelek, yang ada adalah perempuan pemalas. Malas merawat diri, malas berolahraga, dan malas melindungi diri dari hal-hal yang bisa merusak tubuh.

Saya tidak bilang bahwa saya cantik (karena memang saya bukan), wajah saya ditumbuhi jerawat, lengkap dengan bekas-bekasnya. Bentuk badan saya tidakah langsing bak personil girlsband Korea karena berat badan saya lebih dari yang seharusnya. Kulit saya juga tidaklah putih nan mulus ala artis-artis pengiklan lotion di televisi, karena saya orang jawa tulen yang berkulit sawo matang dan tambah matang saja karena saya boak balik naik motor sehingga terpapar sinar UV. Hingga akhirnya muncul pertanyaan dalam diri saya sendiri, "sehatkan saya?"

Apa yang membuat saya berfikir demikian? Jadi suatu hari saat sedang iseng ngerjain tugas (???) saya menemukan sebuah artikel di situs VOAIndonesia dengan judul 'Obesitas Tingkatkan Resiko Kematian Penderita Kanker' (25-10-2012) yang menyatakan bahwa obesitas bisa meningkatkan resiko kematian pada penderita kanker. Nggak cuma itu sodara-sodara, dalam artikel itu juga dibilang kalo kelebihan berat badan bisa meningkatkan resiko diabetes, kanker usus besar, kanker prostat pada laki-laki, juga kanker endometrium, sejenis tumor rahim, pada perempuan. Dari situ saya berfikir, memiliki berat badan ideal tu bukan cuma masalah cantik, tapi lebih dari pada itu, SEHAT! lagian, indahkah dipandang mata orang yang nampak seperti yang sudah saya jelaskan tadi?.Terus apakah kurus berarti sehat karena terlalu kurus bisa jadi ciri-ciri orang yang kekurangan gizi dan juga bisa jadi indikator seseorang mengidap bulimia atau anoreksia yang merupakan gangguan emosional dan kejiwaan. Tentu, semua harus sesuai dengan porsinya, karena segala sesuatu yang berlebihan itu jelas nggak baik.

Saya bukan tidak percaya diri dengan badan saya, karena saya tipe orang yang berpendapat bahwa kepercayaan diri bukan hanya ditentukan dari bentuk badan, warna kulit, atau keelokan wajah. Tapi setiapkali melakukan aktivitas fisik yang agak berat, misalnya naik tangga 2 lantai, saya sudah ngos-ngosan karena badan saya yang agak gemuk. Setiap kali melihat wajah di cermin, saya melihat bahwa kulit saya sangat tidak sehat karena sel-sel kulit mati tidak terangkat dan (seperti yang sudah saya bahas di atas) penuh dengan pernak pernik. Dari situlah saya mengambil kesimpulan bahwa: cantik bisa menjadi salah satu parameter sehat!

Jadi bagi yang agamis dan senantiasa bersyukur atas karunia Tuhan, maka menjadi 'cantik' adalah sebuah kewajiban. Kewajiban karena menjaga dan merawat tubuh merupakan suatu bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Bayangkan betapa Tuhan telah mengkaruniakan tubuh yang sempurna, tapi kita tidak bersyukur dan tidak merawatnya, membiarkan kulit terpapar matahari dan membuatnya rusak, memakan apa saja yang ingin dimakan tanpa mempertimbangkan nikmat sehat (atau dampak jangka panjang dari apa yang kita makan), dan mengacuhkan tubuh seolah-olah merawat tubuh bukan bagian dari ibadah.

Bagi yang tidak peduli terhadap pendapat orang terhadap tampilan fisik dan menganggap bahwa eksistensi dan kebahagiaan tidak bisa diukur dari bentuk tubuh, maka menjadi 'cantik' bukanlah adalah suatu cara untuk diakui atau dihargai, tapi sebagai bagian dari menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup. Menjaga dan merawat diri adalah suatu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, bukan berarti peduli terhadap penilaian orang. 

Olah raga bukan cuma masalah cantik, tapi lebih dari itu, SEHAT!
(sumber gambar: ivierafitnesscenters.com)

 So, ayo jadi cantik! merawat diri, cuci muka sebelum tidur biar kotoran di wajah pada kabur, memakai payung dan masker ketika berada di bawah terik matahari, dan diet (alias mengatur pola makan dan makanan yang masuk ke tubuh) dan tak lupa olah raga agar berat badan ideal. Semua itu adalah hal yang dilakukan agar jadi cantik. Bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sendiri agar kita tetap sehat, karena CANTIK ITU SEHAT...
Ngomong-ngomong soal tanda coret, ada salah seorang teman kuliah saya yang agak sensitif dengan kata 'wanita' karena kata tersebut berasal dari bahasa jawa 'WANI ditaTA', yakni perspektif jaman dulu mengenai perempuan sebagai sosok yang bisa ditata oleh laki-laki. Kalo kata 'cewek' itu artinya, wah, panjang kalo diceritain....

Rabu, 31 Oktober 2012

What do I stand for?


Ada malam-malam dimana saya mempertanyakan keberadaan diri, mencari makna dibalik keberadaan dunia dan merenungi langkah yang sudah saya jalani

Ada malam-malam dimana saya menyesali apa yang sudah saya lakoni, menggugat tiap dogma yang saya amini, dan menghujat para rabi.

dan akhirnya, muncul pertanyaan eksistensial tentang diri saya sendiri:

"What do I stand for?"
kaya' lagunya FUN yang 'some night'. enjoy this video.....


 


'what do I stand for? what do I stand for? most nights, i don't know anymore...'





Kamis, 13 September 2012

Minggu, 05 Agustus 2012

I Am Sher-Locked

Yup, just like Irene Adler, I'm Sher-Locked. Well, brainy is the new sexy she said...and hell, that's totally right... Ta!

*Berharap suatu hari bisa melihat pemandangan ini secara langsung*


Ditengah stressful-nya kasus, Saya menyempatkan diri nonton serial detektif Sherlock Holmes yang ditayangkan BBC (yang pertama kali Saya liat di Be TV tapi akhirnya Saya download). Saya cuma pengen merekomendasikan serial ini kepada para pembaca sekalian (meskipun Saya yakin tidak banyak yang membaca blog ini). Sejauh ini, serial Sherlock Holmes baru ada 2 seasons dan tiap season terdiri dari 3 episode yang berdurasi kurang lebih 90 menit... Sekian postingan nggak penting ini... Selamat mengunduh dan selamat menonton...




Sabtu, 28 Juli 2012

Indonesia-ku

"Hanya ada 2 peristiwa yang akan membuat bendera MERAH PUTIH berkibar dan lagu INDONESIA RAYA dikumandangkan di luar negeri. Pertama, kunjungan kenegaraan Presiden RI. Kedua, pejuang olahraga yang meraih medali emas pada even-even olah raga resmi seperti SEA Games, Asian Games atau Olimpiade."
(Adhyaksa Daud, MENPORA Indonesia Bersatu I)


Pembukaan Olimpiade di London berlangsung meriah, seluruh kontingen dari berbagai negara tumpah ruah dan menunjukkan senyum merekah. Mereka bangga, karena mereka akan mewakili negara mereka dalam ajang bergengsi olah raga antar negara di dunia. Indonesia tidak terkecuali, meskipun screenshot para pejuang merah putih kita tidak lama, tapi Saya bisa merasakan semangat mereka (well, yang ini lebay...).

Saya terharu ketika mendengar kutipan dari Pak Adhyaksa Daud di atas. Karena Saya yakin, butuh perjuangan luar biasa untuk bisa mengibarkan bendera MERAH PUTIH dan mengumandangkan lagu INDONESIA RAYA  ketika mengikuti ajang olah raga yang resmi dan bergengsi, apalagi di bulan puasa pas musim panas pula (apalagi kalo mereka puasa). Semoga, para pejuang merah putih kita bisa mengibarkan bendera MERAH PUTIH dan mengumandangkan lagu INDONESIA RAYAdi London. Selamat berjuang, INDONESIA BISA!

Pejuang Merah Putih

Jumat, 29 Juni 2012

Headlight

Satu lagi lagu dari Monkey Majik yang saya suka, judulnya headlight...


Seperti biasa, saya suka video clip-nya, suka suaranya Blaise, suka sama lagunya, suka sama arransement-nya, suka sama liriknya, suka semuanya pokoknya...

Kamis, 28 Juni 2012

toto-chan...

-Sebenarnya, tulisan ini saya buat ketika saya sedang menemani ibu di rumah sakit kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, namun karena situasi dan kondisi diri yang tidak menentu, saya baru bisa mempublikasikan ke blog sekarang-

Hampir seminggu saya menemani ibu di rumah sakit di Cisarua Bogor karena ibu mengidap radang paru-paru dan penyempitan pembuluh koroner, dan selama seminggu itu pula saya semakin menyadari suatu hal...

Sebelumnya akan saya kutip sebuah kalimat yang berasal dari sebuah buku dan diucapkan oleh seorang kepala suku di daerah Tanzania ketika dia bertemu dengan sang Toto-chan (Tetsuko Kuroyanagi, duta UNICEF dan penulis buku tersebut)
"Orang dewasa meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka. Tapi anak-anak hanya diam. Mereka mati dalam kebisuan, dibawah daun-daun pisang. Mempercayai kita, orang-orang dewasa”
Kalimat tersebut diucapkan karena anak-anak memang menjadi korban kekeringan dan kemiskinan di Tanzania, dan problematika yang telah menjadi polemik tersebut hingga kini masih belum juga terselesaikan.

Saya mungkin tidak benar-benar melihat anak-anak yang menjadi korban kemiskinan dan kekeringan secara langsung, tapi saya benar-benar melihat seorang anak yang meninggal dalam diam dan mempercayakan nyawanya kepada orang dewasa... entah siapa namanya, karena situasi memang tidak memungkinkan saya untuk mencari tahu. sang anak berumur kurang lebih 4 bulan, ia terkena diare hingga mengalami dehidrasi. anak itu mungkin tidak meninggal dibawah pohon pisang, tapi sungguh anak itu meninggal dalam diam. ketika saya menyaksikan dan melihat orang-orang dewasa yang mengeluh karena penyakit yang mereka derita, anak itu hanya diam kawan...

Ketika pertama kali sang anak masuk IGD pukul 06.30 pagi, anak itu pasrah dan diam, ketika akhirnya dibawa ke paviliun melati pukul 09.30 anak itu tetap pasrah dan menangis (karena memang itu satu-satunya hal yang bisa dia lakukan), sampai akhirnya ia meninggal pukul 11.30, dia tetap pasrah. dia diam, merelakan tubuhnya dicacah oleh jarum-jarum suntik. dia diam. mempercayai orang-orang dewasa disekelilingnya untuk mengobati dan mengusahakan yang terbaik yang mereka bisa, mempercayai ibu dan ayahnya untuk mendoakannya.

Dia diam. karena dia memang tidak berdaya untuk melakukan apa-apa. Dan ketika akhirnya Sang Penguasa mengambilnya, kita orang-orang dewasa tidak bisa berbuat apa-apa. (dan) mungkin seperti itulah kondisi Anak-anak di dunia (atau dalam lingkup yang lebih kecil, di Indonesia). Anak-anak seringkali menjadi korban. Korban peperangan, korban politik, korban kesenjangan, korban ketidakadilan, korban keegoisan. dan mereka hanya bisa diam. diam karena memang mereka tidak bisa berbuat apa. diam karena memang mereka tidak punya daya. dan (seharusnya) memang hanya kita orang dewasa yang bisa mengupayakan sesuatu untuk mereka. Namun apa daya, ternyata orang dewasa yang menjadi tumpuan justru seringkali mengeluhkan rasa sakitnya, jangankan mempercayakan nyawa pada mereka, tidak mendengar mereka mengeluh saja sudah merupakan hal yang luar biasa...

dan akhirnya, saya menyadari betapa seringnya saya mengeluh. Mengeluh karena sakit, mengeluh karena merasa susah, mengeluh karena yang saya inginkan tidak terpenuhi, dan saya terus-terusan mengeluh, tanpa henti, hanya memikirkan diri sendiri. Sampai sekarang saya masih melakukannya, dan saya masih belajar mengenai kata sederhana yang begitu sulit dilakukan dalam kehidupan nyata: Sabar, Ikhlas dan Syukur. Orang bilang, itu kunci kebahagiaan dan mungkin karena saya belum bisa melakukannya, saya belum merasa bahagia.

Selasa, 26 Juni 2012

SAMPAH Juga Bisa Berguna


Disini sampah….

  (sumber gambar: km.itb.ac.id)

Disana sampah….

 (sumber gambar: sekarsariningsih.blogspot.com)

Dimana-mana kulihat sampah….

 (sumber gambar: waspada.co.id)

Sampah benar-benar telah menghantui bumi kita, dia ada dimana-mana, di rumah, di jalan, di sungai, bahkan di laut… Sudah banyak korban-korban tak berdosa yang bergelimpangan karena sampah, mulai dari tanah, tumbuhan, bahkan hewan … Bayangkan, dibutuhkan setidaknya 500 tahun bagi tanah untuk bisa menguraikan sampah plastic, artinya, kalo saya nyimpen plastic di rumah, trus saya mendiamkannya begitu saja, maka niscaya cicit dan generasi setelah cicit saya masih bisa melihat tu sampah plastic… wow, betapa ‘sampah’-nya sampah itu. Saya sendiri pusing nggak karu-karuan ngeliat sampah, mana rumah deket BKT (Banjir Kanal Timur) dimana banyak orang yang membuang sampahnya di sana, walhasil BKT jadi BAU, airnya ITEM, dan yang lebih parah dan mengganggu kesehatan, jadi banyak NYAMUK. Sampah oh sampah...

 Salah satu korban kekejaman sampah...

Meski sampah memiliki cuku banyak dampak negative apalagi kalo dibuang sembarangan, ada juga dampak positifnya, misalnya saja bagi para pemulung… mereka bisa hidup karena sampah dan sampah menjadi satu-satunya ladang mereka untuk bekerja, meskipun lagi-lagi sampah juga menjadi factor resiko bagi mereka untuk terkena berbagai macam penyakit karena kuman dan bakteri yang menemani si sampah… Selain pemulung, adalagi yang menjadikan sampah memiliki dampak positif, yakni, para peneliti dari Instutus Teknologi Sepuluh November Surabaya alias ITS… Pasti pada heran, saya juga sempet heran, sampah? Di jadiin penelitian? Kok bisa?

Jadi, ditengah krisis energi yang mulai dialami dunia dan permasalahan sampah yang merusak keseimbangan bumi dan ekosistemnya, terdapat peneliti-peneliti luar biasa yang mengembangkan pembangkit listrik yang menggunakan sumber atau tenaga yang unik. Ada yang bisa tebak? Tenaga Angin? Sudah biasa…Tenaga Nuklir? Beresiko…  Tenaga BBM? Bis a habis nanti sumbernya …kalo tenaga sampah? Itu baru hebat, dan yang lebih hebat, ide itu muncul dari para peneliti di negara kita tercinta Indonesia, tepatnya peneliti dari ITS Surabaya. Woooowww….. (prok prok prok)

Sebagaimana dilangsir dalam VOA Indonesia 22 Juni 2012, para peneliti dari ITS melakukan suatu penelitian dan pengembangan sumber energi yang dapat dijadikan pembangkit Listrik, uniknya sumber energy itu adalah sampah… Keren banget ya, penelitian dan pengembangan PLT Sampah itu akhirnya nggak juma mengatasi permasalahan sampah yang menumpuk dan terbengkalai, tapi juga jadi solusi krisis energy yang mulai menimpa bumi. Salut banget deh sama tim penelitian dan pengembangan PLT Sampah ITS, karena mereka benar-benar telah menunjukkan pendidikan yang memberikan solusi dan  bentuk nyata pengabdian terhadap masyarakata.

Selain dengan PLT Sampah, sebenarnya ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengelola sampah agar tidak menjadi polutan yang mengancam kelangsungan ekosistem. Salah satunya, daur ulang… sudah cukup banyak lho produk-produk hasil daur ulang sampah yang kreatif dan berdaya guna….

 Siapa sangka plastik-plastik sisa kemasan bisa jadi tas jinjing berguna macam ini? Begitu kreatif! (Sumber: desawisatasidoakur.wordpress.com)


 Sisa botol minuman soda disulap jadi tempat cantik ini (Sumber: kitadaurulang.blogspot.com)

Itu baru dua, tapi sebenarnya di Indonesia sudah banyak produk-produk kreatif hasil daur ulang yang dibuat oleh industri rumah tangga…Trus kita sebagai pelajar atau mahasiswa atau ibu rumah tangga atau siapapun yang nggak bisa ndaur ulang bisa apa dong??? Cukup mudah sebenarnya yang bisa kita lakukan. Saya sendiri BERUSAHA untuk selalu MEMBUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA, terus saya juga berusaha untuk membawa tas sendiri, jadi nggak perlu kantong plastik kalo belanja, dan terakhir PISAHKAN SAMPAH ORGANIK dan SAMPAH NONORGANIK karena dengan memisahkannya, kita sudah sangat membantu dan memudahkan mereka-mereka yang melakukan daur ulang dan pemulung-pemulung juga. Selain itu, akan lebih baik lagi jika kita mengurangi penggunaan sampah-sampah nonorganik yang memang sulit diurai oleh tanah dan bumi kita tercinta…

Karena ini adalah bumi kita, kalo bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?

Senin, 18 Juni 2012

UNYIL: Satu Cerita Berjuta Makna…


Pasti kita familiar banget sama karakter-karakter komik, animasi atau kartun dari negara-negara asing yang banyak ditayangin di stasiun televisi Indonesia.  Kalo dari Jepang ada Doraemon, Korea punya Peroro, Malaysia ekspansi dengan Ipin-Upin, dan Amerika terkenal dengan kartun SpongeBob-nya, maka sebenarnya Indonesia juga nggak kalah lho dari mereka, karena kita punya Si Unyil….


 Unyil dan Pak Raden, sumber gambar: Wikipedia


Meskipun tidak popular dikalangan anak-anak masa kini, Si Unyil sempat menjadi primadona di jamannya dan bahkan mampu mempengaruhi cara pandang dan cara berfikir, terutama anak-anak Indonesia. Sadar atau nggak, Si Unyil benar-benar telah menggambarkan karakteristik dan Budaya Indonesia yang tentunya sangat berbeda dari negara-negara lainnya.

Salah satu yang paling Indonesia yang digambarkan dari cerita Unyil adalah pakaiannya. Lihat saja si Unyil, dengan sarung kotak-kotak bersilang di leher ala orang mau ronda dan peci ala juragan jengkol, nggak ada yang bisa mengalahkan nuansa Betawi dari pakaiannya. Atau masih ingatkah dengan Pak Raden yang memadukan kumis ala orang Madura, pakaian dan blangkon ala orang Jawa Tengah dan cara bicara yang merupakan perpaduan kemedokan orang Jawa dan intonasi ala Sumatra? Begitu Indonesia dan tiada duanya. Apalagi Pak Raden suka banget tu buka-buka Primbonnya sebelum ngapa-ngapain, Begitu Jawa Begitu Indonesia.

yang paling Indonesia lainnya yang digambarkan dalam cerita Unyil adalah karakter Pak Ogah yang suka ngomong: “Cepek duulu doooong…”, mengingatkan pada sesuatu? Yup, dialah sosok yang suka mengawe-awekan tangannya sambil (memaksakan diri) mengatur jalan di persimbangan jalan Ibukota, yakni polisi cepek (sekarang udah bukan cepek lagi deng, jadinya seceng). Cuma di negara kita ada Internship yang beroperasi di jalan-jalan raya dan mendapatkan upah langsung dari para pengendara jalan. Meski mengganggu dan seringkali menimbulkan kemacetan, tapi polisi cepek (atau kalo sekarang udah jadi seceng) cukup dapat mengurangi angka pengangguran (lho?tidak pada tempatnya…).

dan yang paling Indonesia diantara yang paling Indonesia lainnya yang digambarkan dalam cerita Unyil, yang tidak tersurat tapi tersirat lewat interaksi-interkasi tokoh-tokohnya, yang bahkan presiden Obama sempat menyampaikannya dalam pidato ketika mengunjungi Indonesia, yang membuat petinggi negara-negara lain jauh-jauh studi banding dan datang ke Indonesia untuk mencari tau dan mendalaminya, dan pastinya sudah dihafal oleh rakyat Indonesia dari berbagai kalangan usia (kecuali BALITA tentunya) karena tertulis di bawah lambang-lambang Pancasila dalam Garuda Indonesia adalah:


 BHINEKA TUNGGAL IKA
(Terengteng: dengan backsound dramatis ala sinetron Indonesia)


Yup. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, ato bahasa Inggrisnya, “Unity in Diversity”... Berasal dari Bahasa Jawa Kuna dan terdapat dalam Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular, Bhineka Tunggal Ika memiliki makna yang begitu dalam dan begitu filosofis.  Ketika negara-negara Barat mengagungkan Liberalisme dan Pluralisme, Indonesia memiliki konsep persatuan yang lebih integrative karena tetap mementingkan dan menghormati perbedaan. Latar belakang Agama, Budaya, Bahasa, pakaian, bahkan pulau yang berbeda tidak kemudian dijadikan alasan untuk membuatnya menjadi satu, justru perbedaan itu dilestarikan karena perbedaan itulah yang menjadi karakteristik Bangsa kita. Karena itu, biarlah kita berbeda, karena toh satu jualah kita. Dalam perbedaan itu, terdapat satu kesatuan dan satu kesamaan. Jadi meski berbeda pulau, kita tetap satu tanah air. Meski berbeda suku dan budaya, kita tetap satu tumpah darah. Meskipun punya lagu-lagu daerah yang berbeda, kita tetap menyanyikan satu lagu kebangsaan yang sama ketik abendera dikibarkan. Meskipun bisa bahasa daerah yang berbeda-beda, kita tetap memiliki satu bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Itulah Bhineka Tunggal Ika versi interpretasi saya… 

Nah, seperti udah disinggung sebelumnya, moto Bhineka Tunggal Ika ini terrefleksikan dalam cerita si Unyil melalui interaksi-interaksi para tokoh-tokoh didalamnya. Desa Sukamaju dimana Unyil tinggal merupakan suatu desa yang homogeny dimana setiap warganya  memiliki latar belakang suku, budaya, agama, dan bahkan etnis yang berbeda. Tapi, meskipun berbeda, warga di desa Sukamaju menujukkan semangat persatuan, salah satunya adalah melalui Kerja Bakti yang dilakukan secara Gotong Royong demi kemajuan, kebersihan, dan ketertiban bersama.  Ketika melakukannya, mereka tidak lagi mempedulikan perbedaan latar belakang mereka, karena mereka melakukannya untuk dan demi tujuan bersama. Keren kan?Keren banget…


Unyil, Pak Raden, dan Pak Ogah bersama Sang Creator mereka, 
sumber gambar: antaranews.com


Unyil memang sudah tidak lagi eksis di stasiun televisi kita. Tapi dahulu, lewatnyalah anak-anak mendapatkan berbagai ilmu dan pemahaman, bukan hanya dalam hal pendidikan dan menjalani kehidupan, tapi juga bagaimana seharusnya kita bermasyarakat dan bernegara. Bagi saya, Unyil merupakan suatu mahakarya luar biasa  yang begitu berharga yang diciptakan oleh insan kreatif Indonesia. Karena itu, sudah seharusnya dan sudah selayaknya pencipta karakter-karakter dalam cerita Si Unyil mendapatkan penghargaan yang luar biasa dari pemerintah dan dari masyarakat Indonesia. Semoga polemik hak cipta Unyil segera terselesaikan dan semoga, muncul generasi-generasi penerus yang mampu menciptakan karakter-karakter (baik berupa komik, kartun, atau animasi) yang tidak hanya menghibur, tapi juga mampu memasukkan nilai-nilai moral, budaya dan karakteristik Indonesia yang sudah mulai hilang dari Negeri kita tercinta, INDONESIA… Sudah banyak lho insan kreatif yang menunjukkan karya-karya luarbiasanya, sekarang tinggal kita sebagai penikmat yang harus mengapresiasi mereka.

Tulisan ini diikutsertakan dalam:


Sumber dan Bahan Tulisan:

http://id.wikipedia.org/wiki/Si_Unyil

Minggu, 10 Juni 2012

Ayu Ting-Ting dan Suneo

Suatu minggu pagi yang cerah, saya lagi liat kartun Doraemon di salah satu televisi swasta, sebut saja RCTI (maaf, tidak berminat melakukan sensor). Seperti yang sudah diketahui oleh jutaan masyarakat Indonesia dari berbagai usia, semua tokoh Doraemon diisi suaranya oleh orang Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia pula tentunya...

Nah, ditengah-tengah kartun itu, tiba-tiba Suneo menyanyikan lagu yang lagi 'hot-hot'nya di Indonesia, yakni "kesana kemaaari membawa alamat...", yup, Ayu Ting-Ting. Konyol banget sumpah....pantesan anak SD yang suka lewat depan rumah pada hobi betul nyanyiin tu lagu, lha wong dimana-mana didendangkan, bahkan oleh si Suneo...

reaksi pertama saya pas denger sih ketawa, tapi lama-lama saya prihatin... ckckck... lagi-lagi, hak anak-anak direnggut... trus saya mikir, saya bisa apa?

BTW, si Ayu Ting-Ting itu kalo diperhatiin mirip betul sama leader-nya girlband Secret asal Korea yang namanya Hyosung deh...



Ayu Ting-Ting yang mirip Hyosung, sumber: tribunnews.com
Hyosung yang mirip sama Ayu Ting-Ting, sumber: hellokpop.com


Suneo yang gak ada mirip2nya sama mereka berdua, sumber: doraemon.wikia.com






Kamis, 31 Mei 2012

Sastra: Sarana Tumbuh dan Berkembang Anak

Sedih rasanya ketika membaca berita di situs VOA Indonesia tanggal 9 Mei 2012 yang berisi berita duka cita mengenai kepergian seorang sosok berharga, yakni penulis dan ilustrator buku anak-anak asal Amerika Maurice Sendak. Bukannya saya mengenal betul sosok Maurice Sendak,  tapi kepedulian saya terhadap dunia anak-anak membuat saya prihatin karena lagi-lagi kita kehiangan sosok-sosok langka yang benar-benar peduli terhadap well-being anak. Terlepas dari kontroversi isi dan ilustrasi yang banyak diperdebatkan oleh para kritikus mengenai  karyanya, Maurice Sendak terbukti mampu mengukir prestasi dan karya luar biasa seperti “Where The Wild Things Are” yang memperoleh medali caldecott dan bahkan sempat difilmkan pada tahun 2009 lalu . Popularitas buku inilah yang mungkin menjadikan presiden karismatik sekelas Barack Obama membacakan buku tersebut di depan anak-anak yang menghadiri acara tahunan “White House Easter Egg Roll”(sebagaimana ditulis dalam voaindonesia.com).

sumber gambar:  voaindonesia.com
Indonesia tak kalah dari Amerika soal seniman yang fokus membuat cerita serta ilustrasi yang berhubungan dengan dunia anak. Drs Suyadi atau lebih popular dengan sebutan Pak Raden juga punya segudang karya yang salah satunya masih saya ingat betul hingga saat ini, yakni ‘Si Unyil’. Tidak hanya Unyil, bapak yang terkenal dengan kumis tebalnya ini juga telah menghasilkan karya-karya lain berupa buku cerita seperti Timun Emas, Joko Kendil, dan cerita-cerita fable lain yang tentunya dekat dengan dunia anak-anak (ada yang tau atau masih inget ceritanya?).


Pak Raden dan Unyil yang begitu digemari di jamannya
(gambar diambil dari sini)

Sebenarnya cukup banyak penulis Indonesia yang membuat buku bertema anak-anak, diantaranya beberapa anak berbakat yang kemudian menerbitkan bukunya ke pasaran. Tapi menurut saya, ada perbedaan yang cukup signifikan ketika anak-anak menulis cerita tentang atau untuk anak dan orang dewasa yang peduli terhadap perkembangan anak yang menulis cerita tentang atau untuk anak-anak. 

Anak-anak yang menulis cerita tentang atau untuk anak-anak lebih mengungkapkan inner-world mereka sebagai anak-anak, apa yang mereka pikirkan tentang dunia disekitar mereka dan apa yang mereka rasakan sebagai anak-anak.  Lain halnya dengan penulis dewasa yang peduli dengan anak-anak dan menulis buku cerita untuk anak-anak. Mereka tidak hanya sekedar menorehkan ide dalam suatu karya dan tidak hanya menyusun deratan huruf  dan kata, sang penulis dewasa juga berjasa besar kepada anak-anak dengan menambah perbendaharaan kata anak-anak, menanamkan nilai dan pesan moral, serta menumbuhkan kemampuan problem-solving yang dibungkus dengan alur cerita yang lucu, ringan, dan tentunya mudah dipahami apalagi jika ditambahkan ilustrasi yang menarik.
 
Bukan saya tidak mengapresiasi buku yang dibuat oleh anak-anak, namun buku tersebut lebih tepat dibaca oleh orang-orang dewasa terutama orang tua guna memahami inner-world anak, bagaimana cara mereka berfikir dan apa perasaan mereka tentang dunia disekitar. Sedangkan buku yang layak dibaca anak-anak adalah buku-buku yang memang digunakan guna merangsang cara berfikir anak, menambah perbendaharaan kata dan perkembangan bahasa mereka (yang sesuai dengan perkembangan anak-anak tentunya), sambil menanamkan nilai dan pesan moral yang seringkali lebih sulit dilakukan dengan media lain. Intinya, sadar atau tidak, sebagian besar kita dan anak-anak saat ini menjadikan sastra sebagai salah satu sarana untuk tumbuh dan berkembang. Lewat sastra kita diajarkan nilai moral, lewat sastra kita diajarkan empati, lewat sastra kita diajari bagaimana berhubungan dengan orang tua dan teman sebaya, dan yang paling hebat,anak tak sadar kalau mereka sedang diajari.

 
Salah satu karya anak berusia 8 tahun. Kecil-kecil punya karya, saya yang udah seumur gini malah belum punya…hiks…

Terlepas dari paparan di atas, saya tentu sangat bangga terhadap para penulis cilik Indonesia. Mereka adalah para pejuang Indonesia bersenjatakan ide dan pena yang menjadi tonggak dalam memajukan sastra di Indonesia. Jika dibimbing dan terus diarahkan, para penulis cilik itulah yang kemudian akan menghasilkan buku cerita anak-anak dan mengembalikan anak-anak ke dunia yang tepat dan sesuai dengan tahapan pekembangan dan kebutuhannya. Mengingat keterbatasan kemampuan dan kapasitas saya dalam menulis, saya hanya bisa berdoa semoga  tumbuh bibit-bibit dan bakat-bakat baru penulis-penulis yang kreatif  nan produktif yang peduli terhadap anak-anak. Saya sendiri sedang berusaha melakukannya, salah satunya dengan membuat tulisan ini.

Ketika browsing tentang cerita anak, saya menemukan situs menarik berisi aneka cerita dan dongeng untuk anak-anak yang membuat saya semakin optimis bahwa sastra untuk anak-anak nggak ada matinya.

Hidup sastra Indonesia! Hidup anak-anak Indonesia!

Sumber tulisan dan gambar:

voaindonesia.com

pakraden.org

kecilkecilpunyakarya.com

masakecildulu.wordpress.com






Kamis, 05 Januari 2012

tomodachi

Teman adalah  salah satu hal yang paling gw syukuri di muka bumi ini. Dengan sifat gw yang nggak karu2an begini, punya teman yang baik dan loyal itu sesungguhnya hampir bisa dibilang nggak mungkin. Tapi ditengah ketidakmungkinan itu, ternyata gw punya teman-teman yang luar biasa baik dan sabar, dan untuk itu gw harus sangat berterimakasih dan bersyukur.   
 



Jadi, gw bersyukur karena Allah SWT telah memberikan teman-teman terbaik di dunia dan gw pengen berterimakasih kepada teman-teman gw yang selalu ada buat gw, maaf kalo belom bisa menjadi teman yang baik, tapi yang pasti gw bangga bisa jadi teman kalian...

Minggu, 01 Januari 2012

Pak Jahja, Statistics dan Kapal Pesiar

Selama S1, gw benci dan bodoh banget sama yang namanya statistics (yang laen juga deng…), padahal sejak dalam kandungan (well, yang ini agak lebay) ampe kelas 3 SMA, gw suka banget sama yang namanya matematika (biarpun gw juga nggak jago). 

Nah, pas S2 ini, ceritanya gw diajarin sama salah seorang dosen senior dan ahli parah sama yang namanya statistics, namanya pak Jahja Umar PhD (selanjutnya akan menggunakan kata ganti doi dan Pak Jahja). Pak Jahja ini ceritanya S1 di UGM (skripsi doi melibatkan 22 (atau lebih, gw lupa) variabel dan perlu diingat di jamannya belom ada yang namanya computer, apalagi SPSS), S2 sama S3nya di California University of Berkeley. 

Selama satu semester, pak Jahja ini nggak ngajar 3 kali (dan selama itu diajarin sama dosen kedua, namanya mas Aris) gara-gara doi rekonstruksi gigi (yup betul sekali, giginya yang sudah tidak banyak itu dicabutin semua dan doi masang gigi baru)… 

 Gw, Pak Jahja dan Ipadnya (sayang gigi barunya nggak keliatan)

Cuma gara2 tau latar belakangnya aja, gw jadi semangat buat belajar statistics, gimana kalo diajarin sama doi lebih lama (pertama kali diajar sih gw mikirnya begitu). 

Pertemuan pertama bersama doi, menyisakan kesan berarti,  apalagi doi banyak cerita pengalamannya pas kuliah di luar dan doi ngajarin dasar2 statistics yang membuat gw manggut2 karna baru tau (padahal itu udah diajarin pas S1). 

Pertemuan kedua, gw udah mulai ngantuk. 

Pertemuan ketiga, gw udah nggak tau lagi dimana roh gw pas belajar statistics dan akhirnya gw minta diajarin temen gw yg jago statistics pas mau ujian. 

Sebenernya gw ngantuk bukan karna dosennya nggak menyenangkan, tapi emang pada dasarnya gw tu ngantukan dan gw tidur hampir disemua mata pelajaran kecuali KAUP (yang jangan harap lo bisa meleng dikit).

Nah, satu yang gw suka dari pak Jahja itu karena doi sering cerita pengalaman2nya, mulai dari pengalaman doi kuliah di luar, jadi delegasi Indonesia  di pertemuan2 ilmiah dan lomba2 ahli statistics dan matematik di dunia, dan yang paling gw suka adalah pemikiran2 doi tentang pendidikan. 

Ada sebuah episode yang menarik pas gw diajar sama dia dan gw mulai ngantuk2 nggak jelas. Ceritanya suatu hari, doi bilang kalo doi nggak suka sama konsep pendidikan yang saat ini mulai digalakkan di Indonesia tentang  belajar menyenangkan  dan menjadikan guru (hanya) sebagai fasilitator. 

Bagi pak Jahja, tidak ada pendidikan yang menyenangkan. Pendidikan itu butuh perjuangan, yang namanya perjuangan itu membutuhkan pengorbanan, dan yang dikorbankan adalah hal-hal yang menyenangkan.  Jadi, nggak ada tu belajar menyenangkan yang membuat pintar, yang ada adalah belajar yang penuh perjuangan yang akhirnya menjadikan seseorang pintar  karena yang namanya belajar itu seperti pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. 

Gara2 pemikirannya yang controversial (ditengah maraknya tokoh pendidikan yang mengenalkan belajar menyenangkan), doi diundang senat salah satu universitas negeri di Indonesia buat presentasi tentang pemikirannya itu. 

Namanya aja senat, isinya profesor semua dong, apalagi yang ngundang universitas pendidikan, udah pasti ahli dibidang pendidikan. Pas menyampaikan presentasi mengenai konsep pendidikan dan sampe di part rakit, ada pertanyaan dari salah seorang audience (yang tentunya adalah seorang professor), katanya, ‘kalo bisa naik kapal pesiar, ngapain bersusah-susah naik rakit?’
 
Hahaha… cerdas ni professor. Kalo emang bisa naek kapal pesiar  (aka bersenang-senang ke hulu), ngapain susah-susah ngedayung rakit? (begitulah kurang lebih maksudnya). 

Menjawab pertanyaan cerdas begini, pak Jahja memulainya dengan cerita. Katanya (versi udah diedit2 tanpa mengurangi makna): ‘Dulu, pas saya kuliah di California dan computer masih jadi barang mewah, ada computer   canggih yang mereknya iBM dan di seluruh dunia, computer itu hanya dimiliki oleh dua universitas, yakni universitas tempat saya belajar dan satu lagi di wilayah timur Amerika (gw prediksi antara Harvard, Princeton atau MIT). Dengan fasilitas mewah seperti itu, orang pasti berfikir bahwa proses belajar-mengajar, terutama statistics akan lebih mudah dan menyenangkan. Tapi nyatanya dosen saya tidak serta merta menyuruh kami, mahasiswanya, untuk menggunakan computer tersebut agar pekerjaan dan proses penghitungan statistic lebih cepat dan mudah, dosen saya tetap menyuruh kami melakukan penghitungan dengan bermodalkan pensil dan maksimal pake kalkulator.  Dan karena cara belajar tersebut, Saya menjadi Saya yang sekarang’.  Aih aih… so sweet bener yak???

Selain masalah belajar, doi juga nggak setuju tu prinsip guru sebagai fasilitator. Bagi pak Jahja, Guru tu harus pinter dan berkarakter, karena yang namanya Guru adalah sosok untuk digugu dan ditiru. Guru sebagai fasilitator memang (mungkin) akan membuat murid lebih kreatif dengan mencari literature dan referensi dari luar (atau kemungkinan kedua bikin muridnya jadi males), tapi dari jaman dulu kala, guru itu adalah mereka yang berilmu, tempat bertanya ketika tidak tahu. Kalo guru nggak berilmu dan nggak pintar, apa yang mau diajarin ke peserta didiknya?. 

Nah satu lagi, Doi bilang: ‘konsep pendidikan karakter yang banyak diwacanakan saat ini akan berhasil kalo guru-gurunya juga punya karakter, dan saya sangat setuju dengan perkataan mantan presiden Amerika George Bush ditengah pembukaan konferensi guru di Amerika: character is something that you can only learn from someone who has it’. Jadi jangan harap menghasilkan orang-orang yang berkarakter kalo gurunya sendiri juga nggak berkarakter. Hahaha… ini juga cerdas menurut gw. 

Intinya, selama diajar pak Jahja, gw mungkin nggak nambah jago statistics, tapi lebih daripada itu, gw bener2 sadar kalo dunia (sebagai tempat menuntut ilmu) begitu luas dan banyak banget orang pinter di dalamnya (apa di permukaannya ya?). Makanya, gw jadi semangat belajar dan menuntut ilmu (meskipun semangat gw baru sampe pada tahap niat dan belom sampe tahap eksekusi)…



PS:  ngomong2 soal rakit dan kapal pesiar, gw sih bakal memilih naik kapal pesiar kalo mau berlibur, tapi kalo mau belajar (apalagi belajar tentang arah angin), kayaknya bakal lebih ngerti kalo make rakit deh…



PS2: Pak Jahja itu sekarang menjabat sebagai dekan fakultas psikologi di UIN Jakarta (padahal doi udah masuk masa pensiun, tapi namanya juga orang pinter masih aja dicari2 dan dibutuhin dimana2)



PS3: gara2 jadi dekan Psi UIN Jakarta, kalo mau bikin skripsi, mahasiswa di sana minimal harus mengguanakn 6 variabel..(hahaha…kasian bener, gw aja dulu kualitatif karena  sebel banget sama statistics)



PS4: masih banyak yang pengen gw certain tentang pak Jahja sebenernya, tapi udah keburu males…



PS5: masih ada yang baca sampe sini??buset, rajin amat…. Pasti nggak ada kerjaan deh…. Tapi makasih karena udah baca ni postingan.