Laman

Kamis, 19 Maret 2015

Aku Eksis maka Aku Ada

Bertemu dengan para akitivis anak dan perempuan itu membuka mata saya menjadi super lebar. Kami berdiskusi (lebih tepatnya saya mendengarkan, mbak-mbaknya/mas-masnya berbicara ;p) mengenai banyak hal, mulai dari filosofi gerakan perempuan sampai membahas perpolitikan (lebih tepat kalo dibilang njelek-njelekin salah satu calon presiden). Hal yang paling menarik dari seluruh pembicaraan itu adalah karena saya mendapat perspektif lain dari berbagai fenomena.

Berawal dari Harry Potter, berlanjut ke United Nation
Salah satu aktivis gender equality yang saya kagumi
(sumber gambar link ini)

Dari sekian banyak topik, obrolan paling panjang lebar tetap saja mengenai gender, kekerasan dalam rumah tangga, dan kekerasan dalam pacaran. Iya betul, dalam pacaran bisa terjadi kekerasan. saya pernah jadi saksi hidup kekerasan dalam pacaran pas kelas 2 SMA dan yang saya sesali, saya diam saja saat teman saya (perempuan) ditampar oleh pacarnya (kakak kelas saya) di depan kelas. Saya cuma berani merelai, harusnya kan saya tampar balik (loh! salah kayaknya). Paling susah memang melerai orang yang berantem, apalagi kalo mereka pacaran. Soalnya kesannya ikut campur urusan orang. Padahal kekerasan itu harus dihentikan dengan cara ikut mencampuri urusannya.

Nah, yang menarik lagi pas kita diskusi mengenai bentuk diskriminasi dan marginalisasi perempuan. Salah satu teman diskusi menyatakan bahwa salah satu bentuk diskriminasi gender adalah eksistensi perempuan yang semakin dipinggirkan. Seringkali, perempuan ada karena eksistensi orang lain, itu yang (terkadang) membuat perempuan setelah menikah tidak dipanggil sesuai namanya tapi dengan partikel tambahan, macam bu Broto (kalo dia adalah istrinya pak Broto) atau mama Broto (kalo dia adalah mamanya Broto). Pertanyaan saya, apakah itu salah? apakah memanggil seorang perempuan dengan sebutan yang mengandung eksistensi orang lain itu berarti bahwa perempuan tersebut tidak eksis dan tidak dihargai?

Gara-gara itu, saya jadi bertanya pada teman-teman saya (yang sudah menikah dan punya anak) mengenai gimana rasanya dipanggil dengan nama suami atau anak. Mereka menjawab dengan jawaban standar, yakitu: biasa saja. Saya kemudian sadar kalo ada perempuan yang merasa bahwa eksistensinya ada karena eksistensi suami dan anak-anaknya, tapi apa kemudian perempuan itu tidak bahagia? dia bahagia, karena itu mengingatkan dirinya bahwa dia memiliki suami/keluarga dan dia bermanfaat bagi keluarganya. Ada perempuan yang eksistensinya ada karena profesinya, ia juga dipanggil dengan sebutan bu dokter atau bu psikolog (ehem!). Tapi apa panggilan itu tidak membuatnya bahagia? saya sendiri bahagia karena panggilan tersebut mengingatkan tanggung jawab profesi saya dan betapa saya dihargai karena ilmu saya.


Tiba-tiba jadi inget salah satu filsuf yang menyatakan 'cogito ergo sum' alias aku berpikir maka aku ada. Bisa saja kemudian itu berubah sesuai penghayatan seseorang akan eksistensinya. Misalnya seorang penulis mungkin akan mengatakan 'Scribo ergo sum' alias aku menulis maka aku ada, seorang blogger mungkin akan menulis 'blogito ergo sum' alias aku ngeblog maka aku ada, atau kalo ibu rumah tangga mungkin akan bilang "nupta sum ergo sum' alias aku menikah maka aku ada, atau kalo dokter dan psikolog mungkin akan bilang 'habeo hunc ergo sum' alias aku punya klien maka aku ada. Tapi apa pun profesinya, intinya semoga kita semua berfikir bahwa kebermanfaatan kitalah yang penting, hingga akhirnya memunculkan pemikiran 'aku bermanfaat maka aku ada'. 

Jadi, eksistensi setiap manusia itu berbeda-beda tergantung bagaimana ia memaknainya. Profesi, pekerjaan, orang tua, suami, anak, dan harta itu bisa menjadi salah satu bentuk eksistensi kita. Tidak perlu diperdebatkan atau memaksakan pemahaman kita akan eksistensi kepada orang lain yang punya value eksistensi yang berbeda. Selama dia bahagia, tidak menjalaninya dengan terpaksa, dan tidak mengalami masalah baik fisik, finansial, maupun psikologis karenanya, ya tidak perlu dipaksanakan, apalagi dibenci.
 
P.S.: Seluruh bahasa latin ini saya dapat dengan memanfaatnya google translate jadi entah benar atau tidak ;p



Rabu, 25 Juni 2014

Freaky Freak

Suatu siang yang cerah, saya mendapat pesan singkat dari seorang manusia yang hobinya manggil orang dengan sebutan 'freak', isinya:

pyonggg
it's so easy to loose faith in Jkt. No thank yous, no kindness, no empathy towards eldery and those needed.
sedih ya.

Saya terdiam cukup lama, bingung mau jawab apa. Saya sendiri sering mengalaminya, tapi kalau dia saja bilang begitu, pasti ada sesuatu. Saya sempat terpikir untuk menjawab: 
"yaelah broh, namanya juga hidup di negara dunia ketiga. Lo berharap apa? Negara dunia ketiga itu ya nggak hanya kondisi perekonomian atau sarana prasarana yang kurang menunjang. Tapi ada lagi yang lebih esensial, kualitas sumber daya manusia-nya, mental manusia-nya, cara berpikir manusia-nya. Jadi ya kita bisa apa. Pilihannya pindah ke developed country atau kita berusaha merubah ni negara atau ni kota sebisa kita."

Tapi kalimat itu toh tidak saya ucapkan. Ntah mengapa, mungkin karena saya pikir bukan itu yang dia butuhkan.

Atau saya juga sempat mau menjawab: 
"ya udah, lo tegur aja sebisa lo, yang penting kita berusaha menyadarkan mereka, sesuai kemampuan kita."

Tapi kalimat itu juga akhirnya tidak saya ucapkan. Karena lagi-lagi saya berpikir, ah, dia sudah tau apa yang harus dilakukannya. Saya yakin.

Saya juga sempat berpikir  untuk menjawab: 
"sabar ya bro. Yang penting kita nggak kaya' mereka. Kita mulai aja dari diri sendiri."

Tapi entah kenapa, saya juga tidak mengucapkannya. Karena menurut saya, ini jawaban orang yang menyerah dan hanya bisa menyimpan kebaikan untuk dirinya sendiri.

Akhirnya saya menjawab dengan hal lain. Tidak penting isinya, karena bukan itu yang hendak saya ceritakan. Yang mau saya ceritakan adalah tentang si manusia ajaib yang hobinya manggil org lain dengan sebutan 'freak' ini.

Dia, manusia yang pagi-pagi nyengir ceria sambil teriak 'selamat pagiiii' di depan pintu kelas, kepada org yang belum terlalu dikenalnya padahal si org ini bermuka jutek nan tidak bersemangat karena lagi stress berat dan bahkan ada tendensi depresi karena memikirkan permasalahan hidup yang dialaminya. Dan saya, si orang itu, terheran-heran karena ternyata manusia ajaib macam itu ada, karena yang saya tau, manusia macam itu hanya ada di drama, buku atau novel. Dan saya, saat itu, untuk pertama kalinya, baru benar-benar sadar, pentingnya senyum dan sapa.

Dia orang yang enggan memakai kantong plastik saat berbelanja di minimarket, padahal dia beli 15 kotak minuman, dan dijejelkan semuanya di dalam tas ranselnya sambil bilang 'nggak papa, toh masih bisa masuk. soalnya sampah plastik itu serem banget dampaknya buat bumi'. Saya speechless, heran karena ada manusia yang sangat2 mempedulikan lingkungan tidak sekedar melalui kata-kata, tapi dilakukannya dengan perbuatan. Dan saya, saat itu, baru benar-benar sadar menjaga lingkungan benar-benar bisa dimulai dari hal kecil.

Dia, orang yang gigih menjual kalender atau diary atau apapun benda yang berbau-bau 'sahabat anak' karena kepeduliannya terhadap anak-anak jalanan dan pendidikan mereka. Atau dia yang berusaha mengajak dan membujuk2 teman-temannya untuk membantu dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan 'sahabat anak' atau jambore anak jalanan, meski seringkali teman-temannya tidak menunjukkan minat. Dan saya yakin, itu dia lakukan tanpa mengharapkan apapun. Dan saya, belajar untuk memberi sesuatu, tidak harus dengan uang, tapi bisa dengan hal lain.

Dia, yang manggil nama saya trus meluk saya sampe bikin saya pengen nangis sekaligus bingung harus gimana atau melakukan apa atau ngomong apa karena saya tidak terbiasa dipeluk. Padahal saya cuma bilang saya mau datang ke pemberkatan pernikahannya. Dan saya nggak jadi datang gara-gara kerja. Dan saya amat sangat menyesalinya. Dan saya belajar, pelukan itu bisa membuat seseorang merasa berharga.

Dia, manusia yang mau mendengarkan dengan antusias, tanpa mengkritik, tanpa menasihati, tanpa menuntut. Dan saya belajar, bisa jadi, orang-orang yang datang kepada kita hanya ingin didengarkan. Karena mereka sudah terbiasa dikritik, dinasihati, diberi banyak tuntutan, dan saat akhirnya kita mengatakan 'kamu tu harusnya bla bla bla bla', atau 'sebaiknya lo bla bla bla bla', atau 'mungkin lo bisa bla bla bla bla', aih, betapa lelahnya mereka...
 
Dia membuat saya yakin bahwa keberadaannya adalah salah satu sinyal bahwa manusia baik itu ada, terlepas dari apapun suku, agama, ras dan bangsanya. Dan saya belajar banyak darinya, dari kelakuan freak-nya. Manusia freak yang super hebat. Selamat menempuh hidup baru, freak!

Manusia freak yang hobi-nya nyengir. Selamat, freak!



Kamis, 22 Mei 2014

Hugo dan Perjalanan Kecil Saya

Perjalanan itu berawal dari kedatangan seorang anak berusia 10 tahun yang sangat mengingatkan saya akan diri saya sendiri saat seusianya. Saya kemudian cemas, sangat cemas, sampai-sampai kuantitas typo saya dalam menulis laporan bertambah, dan saya membutuhkan bantuan, dan saya membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk menangani kasusnya.

Dan saat itulah saya membaca satu bagian dari beratus-ratus halaman buku yang tidak saya kira akan begitu indah hingga membuat saya tercengang dan terus merenung. Sudah sering saya dengar kalimatnya, tapi entah kenapa, mungkin karena saya bertemu dengannya, sehingga kalimat tersebut terasa berbeda.

"Sometimes I come up here at night...just to look at the city. I like to imagine that the world is one big machine. You know, machines never have any extra parts. They have the exact number and type of parts they need. So I figure if the entire world is a big machine, I have to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason, too."
"Did you ever notice that all machines are made for some reason?" he asked Isabelle. "They are built to make you laugh, like the mouse here, or to tell the time, like clocks, or to fill you with wonder like the automaton. Maybe that's why a broken machine always makes me a little sad, because it isn't able to do what it was made to do." Isabelle picked up the mouse, wound it again, and set it down. "Maybe it's the same with people," Hugo continued. "If you lose your purpose...it's like you're broken."
Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret

Saya kemudian ingin berbagi padanya, saya meminta anak itu membacanya, tidak berharap agar ia memperoleh insight yang sama, karena saya sangat menyadari bahwa buku itu mungkin tidak akan berarti apa-apa bagi orang lain. Tapi saya ingin berbagi dan mengatakan bahwa buku itu berarti, sangat berarti, setidaknya bagi saya. 

 Waktu mungkin bisa menyembuhkan luka, tapi waktu juga bisa memperparah segalanya

Dan ada kalimat yang saat pertemuan terakhir kami tidak bisa saya ucapkan: "Saat ini mungkin kamu berpikir bahwa kamu baik-baik saja. Kamu berpikir bahwa apa yang terjadi padamu tidak membawa pengaruh apapun padamu. Dengan cerdasnya, kamu berusaha menyangkal, melarikan diri dan mencari berbagai alasan bahwa hal itu terjadi pada siapa saja. Tidak apa, toh manusia memang mengalami proses yang seringkali tidak disadari dan banyak orang berusaha menyangkal bahwa suatu hal yang menyakitkan telah berpengaruh pada diri mereka. Tapi kakak harap suatu hari nanti kamu akan paham, bahwa setiap kita punya tujuan. Sebagian orang sudah menemukan tujuan hidupnya, namun tidak sedikit yang tersesat dan tidak menemukan apa-apa. Dan mungkin, kita merasa hampa atau merasa bingung karena kita tidak tahu tujuan kita, atau karena kita kehilangan tujuan. Maka kita harus terus mencari dan berusaha kembali kepada tujuan kita, dan mulailah semua itu dengan mengakui. Jadi suatu saat nanti, akuilah bahwa apa yang kita alami bisa membuat kita sedih, marah, kecewa, dan terluka. Tidak apa untuk mengakuinya, karena mengakui bukan berarti kita lemah, bukan berarti juga kita bodoh. Pengakuan itu justru membuat kita sadar, bahwa proses ini, apa yang terjadi saat ini, hal-hal yang terjadi pada kita, sepahit apapun itu, sesedih apapun itu, seberat apapun itu, adalah bagian dari cara Allah untuk menempa kita menjadi seseorang yang lebih berarti, yang lebih bermanfaat. Maka berusahalah untuk menemukan tujuanmu, jadilah individu yang terbuka terhadap ilmu, dengarkan orang di sekitarmu dan nasihat-nasihat bijaksana mereka, jadilah pribadi yang peka dan peduli terhadap orang lain. Dan jika kau dengar orang dewasa di sekitarmu mengeluh, atau mengkritikmu, atau mengatakan betapa tidak bersyukurnya dirimu. katakan kepada mereka: "ajari aku untuk tidak menjadi seperti itu, karena aku hanya anak 10 tahun yang tidak tahu apa-apa, yang tidak tahu tujuan hidupku, maka ajari dan bantu aku". Dan ingatlah, jangan lakukan itu untuk bunda, atau untuk ayah, atau untuk mama dan papa, tapi untuk dirimu, dan untuk kebaikan yang lebih besar. Dan saat tujuan itu sudah mendekat atau sudah tercapai, mungkin kamu akan bersyukur dan tersenyum, betapa hidup telah mengajarkan banyak hal". aahh, mungkin dia tidak akan mengerti, tapi semoga suatu saat nanti dia akan..

Dan saya belajar banyak. Belajar untuk memaafkan dan melupakan... Sesuatu yang sebelumnya hanya bisa saya ucapkan, namun saat itu, saya sudah berusaha dan mengupayakan untuk melakukannya...

Selasa, 20 Mei 2014

Saya mau ngeblog ah, tapiii...


Desember 2013 adalah bulan terakhir saya ngeblog dan menulis sesuatu. Padahal dalam hati, saya sudah bertekad ingin menulis setiap bulan. Dengan berbagai dalih yang saya anggap masuk akal, saya perlahan-lahan enggan menulis. Saya selalu bilang: saya mau ngeblog ah, tapiii... (mau fokus ngerjain tesis dulu, deadline laporan mendekat, ribed ngurus ini-itu, nggak ada ide). Padahal sebenernya karena saya malas dan main terus.. 

Tapi saya mau nulis lagi...

dan sudah jadi satu tulisan ini

;p

Jumat, 13 Desember 2013

Berpindah ke Lain Hati...

Maaf Pak, bukannya tidak punya loyalitas, tapi Saya butuh sosok yang bisa mengingatkan saat lupa, yang menyemangati saat berada di titik terendah... Baginya, penampilan bukan segalanya, kontribusi dan dedikasi jauh lebih utama... Kebenaran substansi itu lebih bermakna dari 'pembenaran' kemasan...

Saya memutuskan berpindah ke lain hati... Profesinya sama, tapi, ahhh... yang satu ini sensainya lebih luar biasa...

Aku padamu, Pak Agus Salim
aih, bahkan kacamatapun sama...