Jadi, gw bersyukur karena Allah SWT telah memberikan
teman-teman terbaik di dunia dan gw pengen berterimakasih kepada teman-teman gw
yang selalu ada buat gw, maaf kalo belom bisa menjadi teman yang baik, tapi yang pasti gw bangga bisa jadi teman kalian...
Noridha Weningsari
Bermimpilah! maka semesta akan bermunajat untukmu...
Kamis, 05 Januari 2012
tomodachi
Minggu, 01 Januari 2012
Pak Jahja, Statistics dan Kapal Pesiar
Selama S1, gw benci dan bodoh banget sama yang namanya statistics (yang laen juga deng…), padahal sejak dalam kandungan (well, yang ini agak lebay) ampe kelas 3 SMA, gw suka banget sama yang namanya matematika (biarpun gw juga nggak jago).
Nah, pas S2 ini, ceritanya gw diajarin sama salah seorang dosen senior dan ahli parah sama yang namanya statistics, namanya pak Jahja Umar PhD (selanjutnya akan menggunakan kata ganti doi dan Pak Jahja). Pak Jahja ini ceritanya S1 di UGM (skripsi doi melibatkan 22 (atau lebih, gw lupa) variabel dan perlu diingat di jamannya belom ada yang namanya computer, apalagi SPSS), S2 sama S3nya di California University of Berkeley.
Selama satu semester, pak Jahja ini nggak ngajar 3 kali (dan selama itu diajarin sama dosen kedua, namanya mas Aris) gara-gara doi rekonstruksi gigi (yup betul sekali, giginya yang sudah tidak banyak itu dicabutin semua dan doi masang gigi baru)…
Gw, Pak Jahja dan Ipadnya (sayang gigi barunya nggak keliatan)
Cuma gara2 tau latar belakangnya aja, gw jadi semangat buat belajar statistics, gimana kalo diajarin sama doi lebih lama (pertama kali diajar sih gw mikirnya begitu).
Pertemuan pertama bersama doi, menyisakan kesan berarti, apalagi doi banyak cerita pengalamannya pas kuliah di luar dan doi ngajarin dasar2 statistics yang membuat gw manggut2 karna baru tau (padahal itu udah diajarin pas S1).
Pertemuan kedua, gw udah mulai ngantuk.
Pertemuan ketiga, gw udah nggak tau lagi dimana roh gw pas belajar statistics dan akhirnya gw minta diajarin temen gw yg jago statistics pas mau ujian.
Sebenernya gw ngantuk bukan karna dosennya nggak menyenangkan, tapi emang pada dasarnya gw tu ngantukan dan gw tidur hampir disemua mata pelajaran kecuali KAUP (yang jangan harap lo bisa meleng dikit).
Nah, satu yang gw suka dari pak Jahja itu karena doi sering cerita pengalaman2nya, mulai dari pengalaman doi kuliah di luar, jadi delegasi Indonesia di pertemuan2 ilmiah dan lomba2 ahli statistics dan matematik di dunia, dan yang paling gw suka adalah pemikiran2 doi tentang pendidikan.
Ada sebuah episode yang menarik pas gw diajar sama dia dan gw mulai ngantuk2 nggak jelas. Ceritanya suatu hari, doi bilang kalo doi nggak suka sama konsep pendidikan yang saat ini mulai digalakkan di Indonesia tentang belajar menyenangkan dan menjadikan guru (hanya) sebagai fasilitator.
Bagi pak Jahja, tidak ada pendidikan yang menyenangkan. Pendidikan itu butuh perjuangan, yang namanya perjuangan itu membutuhkan pengorbanan, dan yang dikorbankan adalah hal-hal yang menyenangkan. Jadi, nggak ada tu belajar menyenangkan yang membuat pintar, yang ada adalah belajar yang penuh perjuangan yang akhirnya menjadikan seseorang pintar karena yang namanya belajar itu seperti pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Gara2 pemikirannya yang controversial (ditengah maraknya tokoh pendidikan yang mengenalkan belajar menyenangkan), doi diundang senat salah satu universitas negeri di Indonesia buat presentasi tentang pemikirannya itu.
Namanya aja senat, isinya profesor semua dong, apalagi yang ngundang universitas pendidikan, udah pasti ahli dibidang pendidikan. Pas menyampaikan presentasi mengenai konsep pendidikan dan sampe di part rakit, ada pertanyaan dari salah seorang audience (yang tentunya adalah seorang professor), katanya, ‘kalo bisa naik kapal pesiar, ngapain bersusah-susah naik rakit?’
Hahaha… cerdas ni professor. Kalo emang bisa naek kapal pesiar (aka bersenang-senang ke hulu), ngapain susah-susah ngedayung rakit? (begitulah kurang lebih maksudnya).
Menjawab pertanyaan cerdas begini, pak Jahja memulainya dengan cerita. Katanya (versi udah diedit2 tanpa mengurangi makna): ‘Dulu, pas saya kuliah di California dan computer masih jadi barang mewah, ada computer canggih yang mereknya iBM dan di seluruh dunia, computer itu hanya dimiliki oleh dua universitas, yakni universitas tempat saya belajar dan satu lagi di wilayah timur Amerika (gw prediksi antara Harvard, Princeton atau MIT). Dengan fasilitas mewah seperti itu, orang pasti berfikir bahwa proses belajar-mengajar, terutama statistics akan lebih mudah dan menyenangkan. Tapi nyatanya dosen saya tidak serta merta menyuruh kami, mahasiswanya, untuk menggunakan computer tersebut agar pekerjaan dan proses penghitungan statistic lebih cepat dan mudah, dosen saya tetap menyuruh kami melakukan penghitungan dengan bermodalkan pensil dan maksimal pake kalkulator. Dan karena cara belajar tersebut, Saya menjadi Saya yang sekarang’. Aih aih… so sweet bener yak???
Selain masalah belajar, doi juga nggak setuju tu prinsip guru sebagai fasilitator. Bagi pak Jahja, Guru tu harus pinter dan berkarakter, karena yang namanya Guru adalah sosok untuk digugu dan ditiru. Guru sebagai fasilitator memang (mungkin) akan membuat murid lebih kreatif dengan mencari literature dan referensi dari luar (atau kemungkinan kedua bikin muridnya jadi males), tapi dari jaman dulu kala, guru itu adalah mereka yang berilmu, tempat bertanya ketika tidak tahu. Kalo guru nggak berilmu dan nggak pintar, apa yang mau diajarin ke peserta didiknya?.
Nah satu lagi, Doi bilang: ‘konsep pendidikan karakter yang banyak diwacanakan saat ini akan berhasil kalo guru-gurunya juga punya karakter, dan saya sangat setuju dengan perkataan mantan presiden Amerika George Bush ditengah pembukaan konferensi guru di Amerika: character is something that you can only learn from someone who has it’. Jadi jangan harap menghasilkan orang-orang yang berkarakter kalo gurunya sendiri juga nggak berkarakter. Hahaha… ini juga cerdas menurut gw.
Intinya, selama diajar pak Jahja, gw mungkin nggak nambah jago statistics, tapi lebih daripada itu, gw bener2 sadar kalo dunia (sebagai tempat menuntut ilmu) begitu luas dan banyak banget orang pinter di dalamnya (apa di permukaannya ya?). Makanya, gw jadi semangat belajar dan menuntut ilmu (meskipun semangat gw baru sampe pada tahap niat dan belom sampe tahap eksekusi)…
PS: ngomong2 soal rakit dan kapal pesiar, gw sih bakal memilih naik kapal pesiar kalo mau berlibur, tapi kalo mau belajar (apalagi belajar tentang arah angin), kayaknya bakal lebih ngerti kalo make rakit deh…
PS2: Pak Jahja itu sekarang menjabat sebagai dekan fakultas psikologi di UIN Jakarta (padahal doi udah masuk masa pensiun, tapi namanya juga orang pinter masih aja dicari2 dan dibutuhin dimana2)
PS3: gara2 jadi dekan Psi UIN Jakarta, kalo mau bikin skripsi, mahasiswa di sana minimal harus mengguanakn 6 variabel..(hahaha…kasian bener, gw aja dulu kualitatif karena sebel banget sama statistics)
PS4: masih banyak yang pengen gw certain tentang pak Jahja sebenernya, tapi udah keburu males…
PS5: masih ada yang baca sampe sini??buset, rajin amat…. Pasti nggak ada kerjaan deh…. Tapi makasih karena udah baca ni postingan.
Rabu, 24 Agustus 2011
MANDI
aih...males sudah ngomong saya2an, kembali ke gw2an ajalah...
ngomong2 soal mandi, mandi adalah momok terbesar keluarga (terutama adek gw yg bernama Aji Jayanti ). tapi gara2 sering mandiin nyokap yg lagi sakit, doi jadi mulai menyadari bahwa mandi merupakan kenyataan dan problematika hidup yang memang harus dihadapi. Walhasil jangan heran kalo doi mulai rajin mandi (rajin mandinya dia jgn disamain sama manusia2 normal pada umumnya tapi)...
cuma itu sekilas info. lama nian nggak ngisi blog...hahai...
ngomong2 soal mandi, mandi adalah momok terbesar keluarga (terutama adek gw yg bernama Aji Jayanti ). tapi gara2 sering mandiin nyokap yg lagi sakit, doi jadi mulai menyadari bahwa mandi merupakan kenyataan dan problematika hidup yang memang harus dihadapi. Walhasil jangan heran kalo doi mulai rajin mandi (rajin mandinya dia jgn disamain sama manusia2 normal pada umumnya tapi)...
cuma itu sekilas info. lama nian nggak ngisi blog...hahai...
Sabtu, 02 April 2011
Play List
ah, ya. saya akan memberikan beberapa list lagu yang akhir-akhir ini sering saya dengarkan...
Monkey Majik - Aishiteru (I heart suara bang Blaise Plant di lagu ini)
Monkey Majik - Sunshine
Monkey Majik - Together
Monkey Majik - Tada, Arigatou
Monkey Majik - Akari
Monkey Majik - Westview
Monkey Majik - Sakura
Miho Fukuhara - Let It All Out (Ost. Full Metal Alchemist)
SNSD - My Best Friend (well, saya hanya menyukai part awal lagu ini)
Miley Cyrus - The Climb (ini lagu cukup memotivasi, indeed!)
Greeeen - Kiseki (Ost. Rookies)
Michael Buble - Haven't Met You Yet
ini lagu berulang-ulang saya dengarkan...
saya tidak ahli dalam bidang musik, jadi saya tidak tahu bagaimana harus memberikan penilaian terhadap musik. Bagi saya, musik yang bagus adalah yang saya sukai...
Monkey Majik - Aishiteru (I heart suara bang Blaise Plant di lagu ini)
Monkey Majik - Sunshine
Monkey Majik - Together
Monkey Majik - Tada, Arigatou
Monkey Majik - Akari
Monkey Majik - Westview
Monkey Majik - Sakura
Miho Fukuhara - Let It All Out (Ost. Full Metal Alchemist)
SNSD - My Best Friend (well, saya hanya menyukai part awal lagu ini)
Miley Cyrus - The Climb (ini lagu cukup memotivasi, indeed!)
Greeeen - Kiseki (Ost. Rookies)
Michael Buble - Haven't Met You Yet
ini lagu berulang-ulang saya dengarkan...
saya tidak ahli dalam bidang musik, jadi saya tidak tahu bagaimana harus memberikan penilaian terhadap musik. Bagi saya, musik yang bagus adalah yang saya sukai...
Selasa, 16 November 2010
The Historian
Sejarah bukan hanya deretan angka atau kumpulan nama tokoh dan peristiwa, sejarah juga bukan rentetan euforia kemenangan dan kejayaan semata. Sejarah ada sebuah realitas perjuangan, tentang kerja keras dan pengorbanan, tentang strategi dan kecerdasan. Menguasai sejarah bukan berarti terlena dalam kejayaan masa lampau dan hanyut dalam romantisme perjuangan, tapi dengan menguasai sejarah, seseorang dapat memaknai setiap langkah yang diambil untuk menata hidupnya. Karena barang siapa menguasai sejarah, maka ia menguasai dunia...
Hal itu yang saya pelajari ketika membaca novel berjudul The Historian (sang sejarawan) karya Elizabeth Kostova (info lebih lengkap kunjungi situs ini atau ini). Novel tersebut bercerita tentang perjalanan Sejarawan dalam mengungkap misteri keberadaap Vlad Ţepeş atau dikenal juga sebagai Dracula. Sebenarnya bukan novel itu yang ingin saya ulas, yang ingin saya ulas adalah tentang bagaimana sang penulis mengungapkan dan mendeskripsikan fakta dan data terkait keberadaan Vlad Ţepeş dan Ottoman Empire. Awal-awal membaca novel ini, saya terlena dengan alur dan fakta-fakta sejarahnya, menelan mentah-mentah apa yang ditulis oleh sang penulis. Tapi ketika sang penulis mulai mendeskripsikan Ottoman Empire, saya mulai agak gerah... Tidak secara langsung dituliskan memang, tapi Ottoman Empire digambarkan sebagai sebuah dinasti kejam yang suka menyiksa dan menindas, tidak berperikemanusiaan dan bar-bar. Sebenarnya tidak ada kata2 yang memojokkan agama tertentu dalam novel ini, tapi jika mendengan kata Ottoman Empire, orang tentu akan langsung mengaitkannya dengan Islam. Yah, saya tidak menyalahkan sang penulis sebenarnya, karena memang begitulah para orientalis seringkali menulis tentang Islam, hanya saja saya mengkhawairkan para pembacanya. Bayangkan jika para pembaca menelan mentah-mentah pendeskripsian sang penulis tentang Ottoman Empire, maka saya mengkhawatirkan skema syang akan berkembang dikalangan para pembaca novel ini tentang Islam...
Kata-kata 'Barangsiapa menguasai sejarah, maka ia menguasai dunia' saya pikir merupakan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan fenomena ini. Bayangkan bentuk doktrinasi dan propaganda yang bisa dilakukan dengan melakukan manipulasi terhadap sejarah. Penyimpangan dan manipulasi sejarah bisa saja menumbuhkan kebencian dan dendam, menyulut pertengkaran dan peperangan. Karena itu, kuasailah sejarah, tegakkan dan sebarkan kebenaran sejarah seperti Sailormoon yang menegakkan kebenaran dan cinta dengan kekuatan bulan(haduh, udah mulai ngelantur!). Atau kalo malas menegakkan dan menyebarkan kebenaran sejarah, pelajarilah sejarah agar kita tidak tersesat dalam menginterpretasi sejarah, dan yang lebih penting, agar kita belajar nilai-nilai kebenaran sejarah dan mampu mencontoh atau bahkan melebihi sejarah....
Dibawah naungan suara Adzan, Malem Takbiran...
Gara2 nulis tentang Dracula jadi takut mo keluar kamar, mana di rumah sendirian...
mulai nggak penting ni tulisan...
ya sudahlah...
btw, idul adha adalah ulang tahun hijriyah saya...
hidup sejarah!!!
Langgan:
Entri (Atom)

